Label

Jumat, 26 Desember 2014

Bersama Dalam Persaudaraan


Lokasi PDCA IX Desa Kasungai, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kaltim.
Regenerasi merupakan salah satu ruh dalam sebuah organisasi. Dengannya, organisasi bisa tetap mempertahankan eksistensi. Dengan regenerasi, visi dan misi sebuah organisasi dapat terus dilanjutkan.

Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurer's. Community (Cadas.Com) menyadari betul betapa pentingnya regenerasi dan kaderisasi bagi sebuah organisasi. Jika regenerasi dan kaderisasi berjalan dengan optimal, tentu eksistensi Cadas.Com bisa terus terjaga.

Sebagai agenda rutin tahunan, Mapala Cadas.Com menggelar Pendidikan Dasar Cinta Alam (PDCA) IX  yang merupakan wadah regenerasi di Desa Kasungai, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaen Paser, Kaltim, dari Senin (15/12) sampai Minggu (21/12).

Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan, wilayah hutan yang relatif masih terjaga, ditambah dengan tersedianya beberapa spot aplikasi lapangan seperti survival, caving (susur goa) dan rock climbing (panjat tebing) membuat hutan di Desa Kasungai sangat layak untuk menjadi tempat dilakukannya kegiatan PDCA.


Tema PDCA IX kali ini adalah Bersama Dalam Persaudaraan. Memang terdengar sederhana, namun memiliki makna yang dalam jika kita renungkan. Diharapkan, peserta yang mengikuti PDCA IX nantinya dapat terikat dengan jiwa persaudaraan yang kuat, sehingga dapat menjalankan peran dan tanggung jawab di organisasi dengan semangat persaudaraan. Tidak hanya di organisasi, semangat persaudaraan ini diharapkan dapat menular dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun ini, jumlah peserta yang mengikuti PDCA berjumlah 10 orang yang terdiri dari sembilan laki-laki dan satu perempuan. Selama kurang lebih satu minggu, peserta diarahkan untuk mengaplikasikan materi yang sudah didapat ketika pra PDCA berlangsung.

Tak hanya aplikasi survival, navigasi darat, caving, dan rock climbing dari panitia, PDCA juga menanamkan pentingnya kebersamaan, perasaan senasib sepenanggungan, persaudaraan, loyalitas serta kecintaan kepada alam.

Setelah melahap semua materi serta melakukan aplikasi lapangan, akhirnya 10 peserta yang mengikuti kegiatan PDCA IX dikukuhkan sebagai anggota muda Mapala Cadas.Com. Ditandai dengan pemasangan slayer hijau pada upacara yang berlangsung di lokasi PDCA IX.




Foto angkatan IX (Hymenoptera ) selepas pelantikan sebagai anggota muda Mapala Cadas.com STT MIGAS Balikpapan
Selamat datang pada Hymenoptera, Doni Setiyawan (Gajah) - Jonri Panggabean (Lepas) - Imam Sahadillah (Karno) - M. Nur Iqbal Dinda (Ranting) - Yosua Sumendap (Koler) - Muh Riskiullah (Lepak) - Ariska Noverawati (Ranum) - Iqbal Raditya (Reyot) - Jossy Valenino (Ale) - Kenny Getih (Dinding).

"Setiap generasi ada masanya. Setiap masa ada generasinya"


Suasana seremonial pembukaan dan pelepasan peserta PDCA IX. 

Sambutan oleh Ketua STT Migas Balikpapan sekaligus membuka kegiatan ini.

Peserta menuju lokasi PDCA IX diawali dengan melakukan penyeberangan basah dan tracking selama 1 jam memasuki hutan.






Aplikasi materi survival oleh peserta PDCA IX diantaranya (dari atas) mengulas materi dasar survival, botanizoologi sekaligus peserta mencari bahan makanan dari hasil hutan, aplikasi membuat perangkap ikan, aplikasi membuat jerat binatang, aplikasi membuat shelter/bivak, dan aplikasi membuat api.

Gender bukanlah kendala, satu-satunya peserta perempuan pada PDCA kali ini berhasil mengaplikasikan materi penelusuran gua di Gua Cinta Damai.

Kekhidmatan upacara pelantikan peserta dan penutupan PDCA IX.
SELAMAT, Penyematan slayer hijau kepada peserta PDCA IX adalah sebuah perubahan dari peserta menjadi bagian dari keluarga Mapala Cadas.Com.  

Bahagia dan berbangga hati atas segala jeri payah yang telah diperjuangkan, itulah makna air mata ini.

Membasuh kepala angkatan ix, dengan harapan menyadarkan untuk menatap tanggung jawab baru.
Selamat datang adik, seremonial penyambutan angkatan ix di sekretariat apala Cadas.Com sebagai akhir dari serangkaian kegiatan PDCA IX. 


(rahul/edwin)

Senin, 29 September 2014

Bakti Sosial, Juga Gali Keanekaragaman Hayati Gn Meliat

Tak perlu jauh-jauh ke Jawa, Sumatera atau Sulawesi bagi penggiat alam bebas khususnya di Balikpapan yang hobi mendaki gunung. Sebab di ujung perbatasan Kaltim-Kalsel terdapat kawasan yang menyimpan potensi keanekaragaman hayati dan budaya Desa Busui, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser.

Pada  Rabu, (3/9) lalu, empat orang Anggota Muda Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan melakukan pendakian ke Gunung Meliat (salah satu bagian dari Pegunungan Meratus).


Tingkatkan Eco Habit Mahasiswa, BLH Gebrak Kampus

Jika dikelola Sampah Datangkan banyak Keuntungan

Masih rendahnya kesadaran mahasiswa akan pemahaman tentang upaya pelestarian lingkungan.   Mahasiswa Pencinta Alam Carmine Delta Adventurers Community (Mapala Cadas.Com) berinisiatif dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Balikpapan menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Penanggulangan Sampah Berdasarkan Prinsip 3R di Area Kampus. 

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (24/9) di kampus Sekolah Tinggi Teknologi Minyak Bumi dan Gas (STT Migas) Gn.Pasir, Balikpapan Kota ini juga berkaitan dengan program kerja Bank Sampah Mapala Cadas.Com sehingga ada proses penyuluhan terlebih dahulu.

Diary awal mula

12 tahun di negeri rantau, akhirnya saya lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah pulau di ujung utara kalimantan. Reno sapaan saya semasa duduk di bangku sekolah, sebuah doa yang sampai sekarang tidak pernah saya pahami artinya.

Jumat, 12 September 2014

Tumpang Tindih Pembangunan, Rugikan Masyarakat dan Lingkungan


Sejatinya, tak hanya kerusakan lingkungan saja yang ditimbulkan akibat aktifitas maupun ketidakselarasan pembukaan lahan oleh aktifitas industri di beberapa kawasan yang punya nilai keanekaragaman hayati yang tinggi. Pada kegiatan “Community Feedback” oleh PT Wilmar Nabati Indonesia (WINA) Rabu (10/9) di Hotel Sejati, Balikpapan banyak nelayan sekitar Teluk Balikpapan mengeluhkan dakmpak sosial dan ekonomi yang terjadi kepada mereka.


Rabu, 04 Juni 2014

Pertamina Tertarik Bank Sampah Lingkup Kampus

Melihat masih maraknya sistem pengelolaan sampah yang tidak pro-lingkungan, hingga menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan sekitarnya,  penanganan khusus ataupun alur  pengelolaan sampah, khususnya Anorganik sejak dari sumbernya secara sistematis dan kolektif agar bermanfaat kembali pada sumbernya dirasa tepat untuk diterapkan.

Jumlah sampah Anorganik atau sampah yang dapat terkelola di lingkungan Perguruan Tinggi yang cukup tinggi menjadi awal mula tecetusnya ide untuk menerapkan sistem Bank Sampah. Sampah Anorganik selama ini turut menjadi perhatian utama, mengingat masih minim penanganan hingga proses peraiannya membutuhkan jangka waktu yang tak pasti.

Terkait itu pada Senin (2/6) kemarin perwakilan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com) melakukan presentasi di kantor Public Relationship, Refinery Unit (RU) V, PT. Pertamina (Persero) Balikpapan terkait pengajuan bantuan fisik Bank Sampah Mapala Cadas.Com.

Gambar.1 Saat presentasi berlangsung
Diketahui Bank Sampah sendiri merupakan sistem pengelolaan sampah yang terintegritas dan ramah terhadap lingkungan sekitar. Dalam bank sampah sendiri, sampah yang kesehariannya dipandang merupakan barang yang tidak berharga dimanfaatkan sebagai material untuk dirubah menjadi nilai ekonomis.

Dalam presentasinya, Ketua Umum Mapala Cadas.Com, Fariz Fadhillah menjelaskan bahwa sistem Bank Sampah sendiri dirasa tepat untuk diterapkan di lingkup perguruan tinggi dan masyarakat sekitarnya mengingat manfaatnya yang cukup banyak dari sisi lingkungan, ekonomis dan program yang berkelanjutan.

“Selain itu, dari rekapitulasi sampah, jumlah Reduksi (pengurangan) sampah kering dan pendapatan dari penjualan sampah tiap waktunya dirasa efektif untuk mengunggah partisipasi masyarakat sekitar (Warga kampus) untuk mengelola lingkungan sekitar,”  ujarnya.

Prinsip utama Bank Sampah sendiri mengacu pada penerapan Undang-undang no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Rcycle (Daur Ulang). “Namun selama ini pengelolaan sampah biasanya dilakukan dengan konsep Buang begitu saja (Open Dumping), Buang Bakar dan Gali-Tutup yang ternyata dianggap tidak mampu memberikan solusi,” tambahnya.

Diluar sarana dan prasarana penunjang yang nantinya akan tersedia tentunya, sistem standariasi Bank Sampah sendiri turut memberikan semacam edukasi kepada masyarakat sekitar (Warga Kampus) tentang budaya pemilahan sampah sesuai jenisnya mulai dari sumbernya.

“Selama 6 Bulan dengan Jumat Bersih Rutin kami mencoba untuk menumbuhkan minat warga kampus untuk memilah sampah agar sampah nantinya bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat, di satu sisi dengan adanya kegiatan itu lingkungan sekitar pun turut ikut bersih. ” tambahnya.
Dalam kesempatan tadi, turut dijelaskan secara gamblang mengenai tahapan dan mekanisme pembentukan sistem Bank Sampah itu sendiri mulai dari Proses pendampingan, Sosialisasi awal, Pengumpulkan audiensnya dari Warga Kampus, Kecamatan, Kelurahan dan RT untuk membentuk komitmen yang kuat di seluruh komponen yang ada.

Khusus untuk proses pendampingan oleh fasilitator sendiri, Wahana Lingkungan Beriman (Walibar) Balikpapan, sebuah organisasi yang melakukan proses pendampingan pada 52 Bank Sampah yang ada di Balikpapan tertarik untuk mendukung upaya dari Mapala Cadas.Com ini.

“Ini kaitannya dengan monitoring dan evaluasi  jumlah sampah yang tereduksi di lingkungan tiap waktunya, jumlah pendapatan (Kg/Rp) perbulannya, hingga penerapan standarisasi Bank Sampah sendiri, “ ungkap Sri Ismudiati, Fasilitator dari Walibar beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk pengembangan Bank Sampah sendiri biasanya menyasar pada unit usaha kader lingkungan dan sebagai sumber dana alternatif bagi pelakunya. “Mulai dari Unit Usaha Simpan Pinjam, Unit Usaha Sembako, Modal Usaha dan Koperasi Bank Sampah nantinya dapat diterapkan jika Bank Sampah ini sudah berjalan,” tambahnya.

Sedangkan dari PR RU V, Pertamina Balikpapan berkomentar atas presentasi yang telah dilakukan. “Secara pribadi saya suka dan mendukung penerapan sistem Bank Sampah di kampus secara berkelanjutan, yang selama ini diterapkan di lingkungan masyarakat. Dan lebih baik lagi jika bisa diterapkan pada masyarakat sekitar, ” jelas Puput, Public Relationship RU V Pertamina Balikpapan dalam sesi tanya jawab.

Begitu pun wanita berkerudung ini, mengungkapkan ketertarikannya pada pola pengumpulan sampah dan sosialisasi cara memilah sampah melalui program Jumber.

“Ya, saya lihat hal ini merupakan suatu kerja nyata dari kalian dan jika dilakukan secara berkelanjutan dan dapat memanfaatkan massa yang ada di kampus persepsi terhadap sampah tentu akan berubah. Semoga kedepannya kerja sama terkait Bank Sampah ini bisa segera berjalan,” tambahnya.


Gambar .2 Saat pelaksanaan rutin program Jumat Bersih


Rabu, 14 Mei 2014

Jual Prusik, Gelorakan Semangat Penghijauan

Banyak cara memaknai Hari Bumi, mengangkat tema “Green Act For The Earth” Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com) berinisiatif melakukan penanaman 100 pohon pada Minggu, (27/4) dilahan kritis kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggar, Jalan Soekarno Hatta, KM 15.

Selain diketahui di wilayah yang juga menjadi sumber pemenuhan air baku bagi masyarakat  Balikpapan, kawasan tersebut sengaja dipilih mengingat tingkat kekritisan lahannya yang cukup tinggi. Terkait  dengan ditetapkannya, Balikpapan sebagai wilayah administrasi dengan tingkat kekritisan lahan tertinggi di Kaltim.

Selasa, 13 Mei 2014

Deforestasi oleh Perusahaan Ancaman Nyata Bagi Lingkungan

Proses perluasan sebuah area industri selalu menjadi ancaman, begitu juga dengan penimbunan berujung penutupan beberapa aliran sungai,  ancaman terhadap keberadaan Hutan Mangrove Primer, biota laut hingga memberikan dampak ekologi bagi masyarakat sekitar.

Senin, 05 Mei 2014

Mati Suri

Pernahkah merasa begitu bangga saat menjadi mahasiswa
pernahkah merasa begitu hebat kala sudah dikenal sebagai mahasiswa
pernahkah merasa begitu tinggi dengan status tertinggi sebagai seorang pembelajar

Ada status sosial yang begitu berbeda dengan predikat itu. Begitu tinggi.
Ya, mahasiswa identik dengan sosok intelektual, humanis, religius di mata masyarakat.

Predikat “Maha” yang digabung dengan kata “siswa” begitu mengagungkan.
Ada dimensi ketuhanan yang terselip pada status itu. Yang artinya, ada esensi kebenaran absolut.

Dengan dinamika yang dijalani, adakah satu pertanyaan pada diri meragukan kebanggaan itu. Adakah rasa malu, beban, tanggungjawab dengan stereotip yang luar biasa tinggi.

Tanpa memahami benar identitas sebagai seorang Mahasiswa, lucu rasanya membenarkan lalu membusungkan dada dengan pelabelan itu.

Dalam kalangannya sendiri, mahasiswa masih berbeda menafsirkan; apa dan siapa
Penafsiran berbeda itu malah tak jarang menimbulkan konflik.
Wawasan terhadap esensi itu banyak tidak dimiliki mahasiswa.

Dunia kampus sebagai virtual society adalah wadah yang tepat sebelum terjun mengabdi pada lingkungan masyarakat sebenarnya.

Bukankah Mahasiswa memiliki Tridharma Perguruan Tinggi ???.

Yang salahsatu unsurnya adalah pengabdian kepada masyarakat. Bukan melulu soal angka, tapi juga nurani. Bukan melulu soal pengakuan, tapi kepekaan.

Kalau tidak memiliki nilai-nilai itu, sama saja mati suri.


“IPK mengantarkan kita hanya sampai pintu ruang wawancara. Selebihnya adalah urusan komunikasi dan kepemimpinan”
Anis Rasyid Baswedan, rektor Universitas Paramadina.


Tolak Tambang di Balikpapan

BALIKPAPAN - Puluhan aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Forum Peduli Lingkungan Hidup Balikpapan menggelar aksi long march dan teatrikal serta pembacaan puisi di halaman Gedung DPRD Balikpapan Jalan Jendral Sudirman, Kamis (24/4).


Selain sebagai peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, mereka juga menyuarakan penolakan terhadap rancangan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kaltim sebagai wilayah yang masuk dalam area pertambangan.


"Kami dengan tegas menolak rencana RTRW tersebut, kami menuntut pemerintah segera menyusun perda (peraturan daerah Red) agar punya kekuatan hukum yang jelas." ujar Koordinator Aksi, Fariz Fadhillah kepada awak media.


Ia menjelaskan, Balikpapan harus berkaca dari pengalaman beberapa daerah yang mengalami dampak ekologi akibat kehadiran tambang batu bara, seperti Kukar dan Samarinda.


"Kita tidak ingin kejadian yang terjadi di Samarinda dan Kukar seperti banjir dan bencana ekologi jiga dialami Balikpapan. Lagipula adanya tambang tidak sejalan dengan misi Balikpapan menjadi kota nyaman huni." tegas Ketua Umum Mahasiswa Pencinta Alam Cadas.Com STT Migas Balikpapan ini.


Menanggapi masukan dari aktivis tersebut, anggota Komisi I DPRD Balikpapan, Eddy Subrata mengaku akan menekan Pemprov Kaltim untuk mengkaji ulang rancangan RTRW tersebut. Mengingat selama ini, baik pemkot maupun DPRD Balikpapan telah berkomitmen menolak kehadiran tambang batu bara di Kota Beriman.


"Kami segera mengkaji penerbitan perda larangan tambang agar ke depan Balikpapan tetap terbebas dari pertambangan," harapnya.


Eddy menambahkan, sejauh ini tercatat sudah ada tiga perusahaan yang pernah menawarkan membuka areal pertambangan di Balikpapan, hanya selalu ditolak.


Penegasan tersebut juga disampaikan sesama koleganya di DPRD Balikpapan, Youtje Rumambi. Menurutnya, aspirasi dari Mahasiswa patut diacungi jempol dan harus dikawal hingga Kota Minyak benar - benar bebas dari pertambangan tanpa pengecualian.


"Wilayah Balikpapan jadi bagian RTRW Provinsi. Ini harus diawasi terus jangan sampai bertabrakan. Bicara kewenangan itu ada di Pemkot Balikpapan,"katanya. "Saya setuju dengan mahasiswa yang juga mau peduli dan mengawasi setiap pembangunan yang bersentuhan dengan lingkungan." sambungnya.


Selain menyoal rancangan RTRW, massa juga mengkritisi minimnya ketersediaan ruang terbuka hijau di Balikpapan, serta beberapa proyek pembangunan di kota ini yang disinyalir tidak pro-lingkungan.


Oleh : Erik Rahul Alfian
(Edited Romdani Kalim Post)

Sabtu, 03 Mei 2014

Butuh 15 Tahun Untuk Terurai



Suatu ketika yang saya dimana saya harus “terpaksa” alfa mengikuti progrem reguler Jumat Bersih, Mapala Cadas.Com---menurut versi saya. Menjadi babak baru bagi saya, ketika wajah garang Ka.Dept Lingkungan Hidup Mapala Cadas.Com tidak sesejuk biasannya.

Seleintingan-selentingan yang kurang mengenakkan mulai digulirkan, apalagi kalau bukan ketika masuk dalam progres pembahasan Jumber dalam evaluasi badan Pengurus Mapala Cadas.Com

Minggu, 06 April 2014

Coretan Kecil dari Milad ke-7

PAGI tadi, saat matahari mulai imut-imutnya. Memori otak tiba-tiba memutar kembali perayaan Milad Cadas beberapa waktu lalu. Sambil menunggu istri tersayang pulang dari pasar, iseng-iseng mengambil laptop. Hasilnya, sedikit coretan seperti di bawah ini.

Di Arab, Cabut Pohon Denda Rp. 9 juta

Saat hujan serta tanah subur yang melimpah ruah di sebagian besar negara, keberadaan ruang terbuka hijau di beberapa negara beriklim gurun yang wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir sangat diperjuangkan.

Seperti di Saudi Arabia yang berkomitmen melakukan gerakan penghijauan secara "sentral" di dataran yang dikenal tandus dan gersang tersebut.

Senin, 03 Februari 2014

“Kita Adalah Pahlawan Bumi”

Rabu (27/11) 2013, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Deltas Adventurers Comunnity (CADAS.COM) Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Balikpapan melakukan aksi bersih-bersih yang bertemakan “KITA ADALAH PAHLAWAN BUMI” di area sekitaran area lapangan merdeka.

Jumat, 31 Januari 2014

Putung Rokok Menjadi Musuh Utama

Bicara soal kebersihan tak selamanya hanya bisa bergantung dengan petugas kebersihan, tentu akan lebih efektif  jika dibarengi dengan kesadaran, minimal tidak membuang sampah sembarangan hingga mengakar menjadi budaya bersama.

Untuk itu demi menanamkan budaya akan kepedulian di lingkup kampus, segenap anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) CADAS.COM pada Sabtu (1/2), kemarin berbondong-bondong menyusur setiap

Rabu, 29 Januari 2014

Lestari Cadas ku



Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com), satu-satunya organisasi kampus yang saya perhatikan ketika presentasi UKM saat petroleum. Di sinilah saya sekarang, terlahir bersama 4 saudara lainnya dalam satu ikatan yang begitu penuh makna, “Sapi Brutal” itulah nama angkatan kami yang lahir tepat pada tanggal 19 November 2011 Angkatan ke VI Mapala Cadas.Com

Rabu, 15 Januari 2014

Terdesak, Pesut Berenang di Sekitar Tambang

Pengrusakan Lingkungan Masih Jadi Ancaman Terbesar Teluk Balikpapan

Minggu, pagi rombongan berhasil memergoki perilaku unik seekor satwa langka Teluk Balikpapan, Pesut (Orcaella Brevirostris) yang tengah bersiap menyelam ke dalam sungai di dekat aktifitas Pertambangan di Sungai Riko, Teluk Balikpapan.

Miris, Habitat Pesut tak jauh dari akifitas manusia bahkan tambang

Minggu, 05 Januari 2014

HASIL KOMISI A TWKM XXV MAPALA TINGKAT PERGURUAN TINGGI
SE-INDONESIA TAHUN 2013
TEMA : KEORGANISASIAN

       I.            ARAH PERKEMBANGAN PERAN MAPALA DI INDONESIA DALAM  ERA MODERN

1.      Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, tampaknya peran Mapala ini lambat laun mulai mengalami berbagai dinamika dan perkembangannya, yaitu ditandai :
1.      Keberadaan Mapala mulai mendapat pencitraan yang kurang baik dari masyarakat, pemerintah, maupun dari rekan-rekan mahasiswa itu sendiri.