Label

Sabtu, 28 Desember 2013

Lahirnya Fillius Fortis

Bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk menjadi anggota dalam keluarga Mapala Cadas.Com. Pada hajatan sakral (Pendidikan Dasar Cinta Alam) kali ini panitia pelaksana menyiapkan 3 tahapan seleksi sebelum melaksanakan Pendidikan Dasar Cinta Alam (PDCA) yang ke-8.
Dari pengembalian formulir pendaftaran, seleksi dimulai dengan melakukan wawancara kepada calon anggota. Dalam tahapan wawancara ini tidak semua calon anggota diloloskan ke tahapan berikutnya, ada penilaian-penilaian dari panitia pelaksana yang menentukan apakah calon anggota tersebut layak atau tidak untuk mengikuti PDCA nantinya.

Tahapan selanjutnya yaitu tes fisik, dimana para calon anggota melakukan beberapa latihan kekuatan, kecepatan dan daya tahan tubuh. Tahapan ini dilakukan dengan tujuan agar panitia mengetahui sejauh mana kebugaran jasmani para calon anggotanya sekaligus mempersiapkan fisik para calon anggota untuk terjun ke lapangan.

Rabu, 18 Desember 2013

Asal Optimis, Bank Sampah Sangat Realistis



Tidak dimungkiri, minimnya dana untuk berkegiatan merupakan masalah mendasar yang menghampiri setiap organisasi untuk mengembangkan kegiatannya. Namun akan terus seperti itu,  jika dana sudah dijadikan suatu sudut pandang bersama yang justru memicu rasa pesimisme hingga membungkam kreatifitas para pelakunya.
“Jika setiap organisasi sudah terbentuk maka saya yakin akan dapat suport dari pihak lembaga, kampus dan pemerintah setempat. Dan lagi pula dana awal (Bank Sampah) hanya untuk memfasilitasi organisasi saja seperti dalam bentuk buku tabungan member dan timbangan, “  jelas Sultony,  Techincal Support Bank Sampah yang berasal dari Cimanggis.
Seperti kita ketahui, bank sampah adalah lembaga perbankan yang melakukan transaksi seperti bank konvensional lainnya. Namun yang membedakannya adalah bank sampah menabung dalam bentuk sampah yang terpilah dan bersih yang ada nilai ekonominya.

Rabu, 13 November 2013

Gelar Aksi Bersih di Pemukiman Atas Air

Cara Aktivis Maknai Hari Pahlawan


BALIKPAPAN–Banyak cara untuk memaknai Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Setiap orang bisa melakukan dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti dengan menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.
Tindakan ini dilakukan sekelompok pemuda, melakukan sterilisasi di pemukiman atas air, Kampung Baru Tengah Balikpapan Barat, Minggu (10/11) pagi. Tujuannya, memotivasi warga agar peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

Tidak hanya lingkungan saja, wilayah pemukiman hingga daerah dermaga menjadi target sterilisasi. Untuk mencapai daerah yang cukup sulit terjangkau, aktivis ini mengajak kerja sama beberapa pihak terkait untuk mendapatkan bantuan perahu.

Kamis, 26 September 2013

Aksi Baksos, Gelar Penggalangan Dana

BALIKPAPAN- Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Balikpapan, Kamis (26/9) sore, melakukan penyerahan bantuan kepada korban kebakaran pemukiman atas air Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, Senin (23/9) lalu.

Selain itu, kedatangan Mahasiswa STT Migas yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.com) bertujuan untuk memberikan dukungan moril kepada Syaiful, mahasiswa jurusan Teknik Industri 2012 STT Migas Balikpapan yang rumahnya turut menjadi korban musibah itu. 

Jumat, 20 September 2013

Enggang: Endemisme Borneo Yang Kian Terancam


Semakin meningkatnya aktifitas penebangan hutan yang berujung meluasnya pembukaan lahan, membuat keberadaan endemik khas Kalimantan kian terancam. Kalimantan Timur merupakan sebuah provinsi di Indonesia memiliki luas total 129.066,64 km², yang membuatnya menjadi provinsi terluas kedua di Indonesia. Begitu luasnya daerah Kaltim, banyak pula ragam flora dan fauna yang ada di dalamnya. Salah satunya yaitu burung Rangkong atau Enggang.

Namun sungguh sangat di sayangkan, belakangan ditemukan endemik Indonesia ini sudah masuk daftar burung langka dunia dan lebih miris lagi ketika diniagakan secara bebas.

Terkait itu, Indonesia menetapkan bahwa burung enggang merupakan fauna yang harus dilindungi. Perburuan enggang masih marak dilakukan oleh orang tak beradap akhir – akhir ini.  Mereka memburu burung ini hanya untuk mengambil paruhnya saja.

Dan paruh burung ini lah yang di perjual belikan hingga ke negeri China dan Malaysia untuk dijadikan sebuah hiasan. Tak tanggung – tanggung untuk satu paruh enggang di hargai hingga empat juta rupiah.  
Seperti apa yang dijelaskan oleh kawan saya, menurut dari apa yang dilihat dengan mata kepalanya saat mengunjungi sebuah event lokal di Balikpapan.

Dengan sedikit rasa ingin tahu, diirinya melihat sedikitnya ditemukan dua kepala burung enggan lengkap dengan paruhnya bebas diperjualbelikan di salah satu stan Cinderamata.

“Harga per buahnya bisa mencapai Rp 1 juta. Kalau beli sekaligus dua bisa di nego,” katanya perempuan berumur seperempat abad itu. Dijelaskan oleh si penjual, kedua enggang tersebut biasa di gunakan untuk cinderamata maupun hiasan dinding yang cukup laris terjual.

“Kalau sebagian orang suku Dayak biasa menjadikannya hiasan topi, itu (Kepala enggang) dapat dari hulu sungai Mahakam, enggang ini sudah mati ketika saya temukan, “ kilah si penjual di event yang di adakan pada Februari silam.

Namun sayang ketika ingin kembali pada keeskoan harinya guna mendokumentasikan temuan hal ini, stand beserta kepala burung maupun penjualnya pun sudah lenyap. Entah faktor kesadaran ataupun si penjual sudah mengetahui bahwa meniagakan kepala satwa yang dilindungi ini akan dipersoalkan.

Dikonfirmasi soal ini, tak satupun petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Kalimantan Timur memberikan pernyataan normatif.  Salah seorang petugas menerangkan, negara tidak diam begitu saja, bagi pelaku yang memperniagakan bagian – bagian dari satwa yang dilindungi itu dekenai pasal 21 ayat (2) huruf d Jo pasal 40 ayat (2) undang –undang no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Terlepas dari itu, endemisme dalam ekologi adalah gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu
Sedikit pengetahuan, burung enggang (dalam bahasa inggris yaitu Hornbill) adalah jenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk lembu tetapi tanpa lingkaran, yang dalam bahasa ilmiahnya adalah BucerotidaeAda sekitar 57 spesies dalam keluarga burung ini 14 diantaranya endemic Indonesia dan 10 di antaranya endemik Afrika, sebagian lagi endemik Asia, dan sisanya tersebar di wilayah lain.

Sedangkan  yang ada di pulau Kaltim adalah jenis burung enggang gading. Yang merupakan burung enggang terbesar dari pada jenis lainnya. Burung ini memiliki ciri - ciri yaitu ukuran tubuhnya yang besar sekitar 100cm, dengan warna tubuh perpaduan hitam dan putih dan warna paruh perpaduan antara kuning, merah dan jingga. 
Tidak hanya Endemik, bagi masyarakat Kaltim burung enggang sudah menjadi bagian dari sendiri kehidupan mereka, seperti burung garuda bagi Indonesia. Allo atau Ruai, sebutan burung besar ini (dalam bahasa dayak) mempunyai kebiasaan hidup berpasangpasangan.

Selain itu, Enggang juga memiliki cara bertelur yang unik, sang jantan akan membuat lubang ditempat yang tinggi pada sebatang pohon  untuk tempat burung betina bertelur, dan sewaktu mengeram itulah burung betina akan menutup sarangnya dengan dedaunan dan lumpur dengan lubang kecil untuk tempat burung jantan memberikannya makanan.

Diketahui, burung enggang betina akan bertelur dengan jumlah telur sekitar 5 hingga 6 butir telur  dalam sarangnya yang tersembunyi tersebut dan apabila induk dan anaknya tersebut sudah tidak muat lagi dalam sarangnya maka burung betina akan memecahkan sarangnya dan merenovasi lagi sarangnya supaya bisa muat bagi anak mereka. pada beberapa spesis kadang anak anak burung itu sendiri yang merenovasi sarangnya tanpa bantuan induknya.

Sang jantan akan memberi makan dan menjaga pasangannya selama bertelur hingga mendewasakan anak anaknya, tidak hanya sampai disitu tetapi hingga seumur hidupnya pasangan ini akan tetap berpasangan. Dan apabila sang Jantan mati maka si Betina pun juga akan ikut menyusul kepergian si Jantan, begitu pun sebaliknya. karenanya burung ini kerap dijadikan sebagai lambang kesetiaan atau lambang kasih sayang.
Namun bagaimana pun juga predator terkuat dan terhebat adalah Manusia . Dan jika kita tidak ingin disebut predator maka sayangilah semua ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini selayaknya kita menyayangi diri kita sendiri.

Apakah Enggang atau Rangkong nantinya akan menjadi sebuah legenda dan cerita? Atau nantinya burung ini akan tampil didalam foto dan video saja? Apa itu yang akan kita beri untuk generasi kita nanti? Itu semua ada ditangan kita, karena Manusia-lah yang diciptakan Tuhan memiliki kesempurnaan dari makhluk lainnya. 

Oleh : Kimut (NTA.CC.04.10.036)










Rabu, 18 September 2013

Mengkhidmati Upacara Kemerdekaan di Puncak Jawa Barat

Banyaknya Peninggalan Bersejarah Menjadi Daya Tarik Tersendiri


Bermacam cara dilakukan dalam memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.   Lebih khidmat rasanya, saat memilih melakukan upacara di tengah alam bebas ataupun di puncak tertinggi seperti di gunung,  khas Pencinta Alam.

Perayaan 17-an, kali ini saya memilih mendaki Gunung Ciremai yang berada di Desa Manislor, Kuningan Jawa Barat. Dengan banyaknya cerita masyarakat terkait keberadaan gunung ini, seperti  keberadaan tempat bersejarah saat Perundingan Linggarjati, Condang Amis, serta Batu Lingga  sebagai tempat beristirahatnya Wali Songo yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki.

Untuk Apa Peduli Lingkungan?

Kondisi Lingkungan dan Sikap Apatis yang Biasa Terjadi


Berbicara kondisi lingkungan dan alam yang ada di Kalimantan sekarang, tentu dihadapakan kepada permasalahan lingkungan yang kian kompleks.
Mau tidak mau, kita sendiri yang harus di paksa untuk pro aktif untuk dapat terjun langsung pada persoalan lingkungan hidup yang ada.

Mengambil contoh, dalam skala kecil atau mungkin sebuah perguruan tinggi, terkait  dengan kondisi lingkungan sekitar, setidaknya dibutuhkan proses pendidikan dan pembelajaran kampus yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sekitar di luar jam kuliah.

Mungkin, dengan sedikit landasan moral dan gairah berbasis lingkungan, para mahasiswa setidaknya mengesampingkan ketergantungan akan kebersihan lingkungan yang menjadi tanggung jawab petugas dan perangkat kampus saja.

Minggu, 08 September 2013

Pencinta atau Pecinta

Seiring perkembangan sosial media, saya sering memperhatikan tulisan dan status yang beredar  di jejaring sosial. Ada yang menulis kata ”Pencinta”, maupun “Pecinta”. Meski merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia kata yang menurut saya harus digunakan adalah ”Pencinta”. Secara subjektif, sulit membedakan makna dari dua kata tersebut, hampir sama penyebutannya jika kita dihadapkan dengan beberapa kata seperti “Amblas” dengan “Ambles”,  “Lengang” dengan “Lenggang”, “Runtut” dengan “Runut” dan lain-lain.

Sabtu, 13 Juli 2013

Sejarah Mapala Cadas.Com

3 Maret 2013, saat perayaan milad ke-6 kami, panitia menyediakan acara khusus mengenai sejarah berdirinya organisasi Mapala Cadas.Com. Hal ini agar anggota tidak melupakan sejarah, sekaligus mengenalkan anggota yang paling muda dengan anggota (senior) tertua, upsss maaf senior. Berikut ringkasannya.




Pada 2003, komunitas pecinta alam di lingkup STT-Migas Balikpapan, Arimba,  membuka pendaftaran penerimaan anggota baru. Saat itu ada sekitar 50 orang yang mengembalikan formulir pendaftaran, namun dalam kurun waktu 1 bulan tidak ada kejelasan dari panitia yang membuat antusiasme peserta menurun. Dalam waktu 1 tahun masih tidak ada kejelasan dari panitia, peserta pun mulai mencari tau tentang Arimba, ternyata kelengkapan organisasi tidak ada dan tidak di wariskan.
Keinginan yang kuat menjadi alasan bagi para peserta membangun semangat yang baru, hingga pada 2006 mulai ada geliat-geliat bahwa akan ada satu organisasi baru yang bergerak di bidang kepecintaalaman. Kantin (Kampus Patra Darma) pada saat itu menjadi markas bagi mahasiswa. Hardi atau yang lebih di kenal dengan nama Oboy mulai merumuskan kembali organisasi pecinta alam. Oboy sempat hilang dari peredaran karena terjadi suatu pertikaian dengan mahasiswa lain. Oboy sebagai konseptor berdirinya Mapala Cadas.Com dan selebihnya di teruskan oleh Benny.
Sempat ada diskusi ringan antara Oboy, Benny, dan Pupu seputar konsep berdirinya Mapala Cadas.Com. Proses pun terhenti sementara karena adanya beberapa kendala, hingga pada akhirnya semua atribut organisasi mulai di susun oleh Benny, Pupu dan Bagus Prasetyo (angkatan 2004) dan mematangkan konsep dengan berbagai referensi tentang keorganisasian, terutama organisasi Mapala. Setelah semua konsep telah matang mulailah di kumpulkan mahasiswa, lalu membuka pendaftaran pada akhir 2006.
Dari 24 orang terpilih, di mulai pendalaman materi yang di dampingi oleh Komunitas Pecinta Alam (KPA) Rimba Lestari Riles), hal ini di lakukan karena Benny dkk ingin mengetahui lebih dalam mengenai sistem kepecintaalaman, mulai dari pendidikan hingga pengkaderisasian. Sejalan waktu, tinggal 21 orang peserta yang masih bertahan dan terus berkurang hingga19 orang yang ikut pendidikan pada awal tahun 2007.
Nama awal yang di usung adalah “Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam dan Satwa Liar” dan resmi di ubah menjadi Mahasiswa Pecinta Alam Carmine Delta Adventurers Community dan lebih di kenal dengan sebutan Mapala Cadas.Com pada Musyawarah Besar pertama di Km 38.

Jumat, 28 Juni 2013

Garang Berbalut Feminin





TIDAK banyak perempuan yang menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi berbasis pendidikan dan petualangan. Sosok yang satu ini, satu dari sekian yang menerima tantangan bergumul dengan rutinitas garang.
Sisi lembut sebagai perempuan kerap dibenturkan dengan kerasnya pergolakan ide dan kreativitas yang berjalan dalam organisasi yang dipimpinnya. Namun semua proses dinikmati sebagai sebuah pelajaran.
“Organisasi ini beda. Kekeluargaan menjadi fondasi penting bagi kami,” sebut Tri Daniah Daniati. Nilai persaudaraan juga menjadi titik awal ketertarikannya bergabung medio 2010 lalu. Di organisasi ini pula, dia mendapati dinamika kehidupan pondok pesantren yang dilewati ketika menamatkan SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin, Balikpapan.
“Di sini (Mapala) kental akan itu. Banyak pelajaran, bukan hanya akademis, pelajaran kehidupan juga kami dapat,” tutur Muyal, begitu dia disapa.
Menjabat sebagai ketua umum Mapala Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com) diakuinya menambah banyak ilmu. Interaksi internal memberinya banyak pesan menjadi pribadi lebih baik. Naluri kepemimpinannya terus terasah. Komunikasi dan bertemu banyak orang dan pemikiran memperkaya sudut pandang.

Cinta Alam ala Calon Teknisi Perminyakan

BERDIRI di kampus yang berorientasi pada eksplorasi dan eksploitasi alam tidak membuat mereka menjadi kerdil. Sebaliknya, dengan pengetahuan dan pengalaman menjadikan sesuatu yang berharga. Di balik pembangunan pasti ada kerusakan, sekecil apapun kerusakan itu. Terlebih jika berbicara industri minyak dan gas bumi. Pengerukan sumber daya alam pun berimbas pada kelestarian alam.
Untuk itu perlu pengetahuan yang luas tentang cara meminimalisasi kerusakan. Hal itulah menjadi pemikiran Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com). Berdiri di STT-Migas, Balikpapan, kampus yang notabene pencetak teknisi perminyakan dan gas bumi, membuat kehadiran mereka menjadi pembeda. “Awal berdiri, saya kerap ditanya mengenai eksistensi kami.
“Bagaimana bisa di kampus eksplorasi alam ada Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam)?” kata Benny Oktaryanto, pelopor berdirinya Mapala Cadas. Dikatakan, antara idealisme dan kebutuhan hidup harus seimbang. Idealisme sebagai pencinta alam harus tetap ada. Justru keberadaan kami (Mapala) untuk berperan dalam hal itu.

Senin, 20 Mei 2013

Mapala Cadas.Com Berbagi dengan Pasukan Kuning

KEPEDULIAN terhadap petugas Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) ditunjukkan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Cadas.Com Sekolah Tingkat Tinggi Minyak dan Gas (STT Migas) Balikpapan.  Dalam aksi simpatik bertajuk “Thanks for Saving Our Earth” yang digelar, Minggu (19/5), mereka  membagikan 200 paket makanan kepada pasukan kuning, sebutan petugas kebersihan DKPP, yang sedang bertugas.

Dalam aksi tersebut, sekitar 20 anggota Mapala Cadas.Com menyusuri jalanan Balikpapan mulai dari Kampus STT Migas di Jalan Ery Suparjan sampai ke arah Balikpapan Baru berlanjut ke Jalan Ruhui Rahayu -Jalan Marsma R Iswahyudi- Jalan Sudirman, dan finish di Lapangan Merdeka.

"Tanpa kita sadari, sejak dini hari, saat kita masih lelap tidur, petugas kebersihan sudah memerah keringat; membersihkan setiap sudut kota kita dari sampah. Kegiatan sosial ini juga sebagai bentuk kepedulian kami untuk mendukung Balikpapan meraih Adipura," ungkap koordinator acara, Aulia Rachmawati.


Selain kepada pasukan kuning, para mapala juga membagikan paket makanan kepada anak jalanan yang mereka temui di jalan. Mereka berharap, anak-anak jalanan ini dapat mengemban budaya hidup bersih. "Kebersihan dan budaya bersih warga sangat erat kaitannya dengan lingkungan. Jadi siapa saja harus menjaga kebersihan lingkungan di mana mereka tinggal," pungkasnya. (*/hul/tom/k1) http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/20531/mapala-cadas.com-berbagi-dengan-pasukan-kuning.html

Selasa, 09 April 2013

Pendidikan Dasar Cinta Alam VII


 15 oktober 2012 
Di dampingi oleh ketua panitia dan dua orang dari anggota penuh Mapala Cadas.Com peserta Pendidikan Dasar Cinta Alam VII berangkat dari kampus STT Migas Balikpapan menuju Batu Kajang, tempat di mana mereka akan mengaplikasikan bekal yang telah di peroleh pada saat proses penerimaan anggota. Dari 18 calon anggota akhirnya 11 orang yang di angkat menjadi anggota muda Mapala Cadas.Com



proses interview yang di lakukan panitia 


foto sebelum berangkat menuju lapangan
upacara pembukaan 

Jumat, 15 Februari 2013

Misi Sosial Mapala Cadas.Com di SDN 008 Kunjung



Senin, 11 Februari 2013 Mapala Cadas.Com mengadakan kunjungan ke Sekolah Dasar Negeri 008 Kunjung Kab.Paser Kec.Batu Sopang Kalimantan Timur.


Sesi foto bersama Mapala Cadas.Com dengan guru dan seluruh siswa/i SDN 008 kunjung Kec.batu sopang.

Terlihat  Dauz (siswa) sedang mencoba membaca kalimat yang terdapat di papan tulis.