Label

Rabu, 18 September 2013

Untuk Apa Peduli Lingkungan?

Kondisi Lingkungan dan Sikap Apatis yang Biasa Terjadi


Berbicara kondisi lingkungan dan alam yang ada di Kalimantan sekarang, tentu dihadapakan kepada permasalahan lingkungan yang kian kompleks.
Mau tidak mau, kita sendiri yang harus di paksa untuk pro aktif untuk dapat terjun langsung pada persoalan lingkungan hidup yang ada.

Mengambil contoh, dalam skala kecil atau mungkin sebuah perguruan tinggi, terkait  dengan kondisi lingkungan sekitar, setidaknya dibutuhkan proses pendidikan dan pembelajaran kampus yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sekitar di luar jam kuliah.

Mungkin, dengan sedikit landasan moral dan gairah berbasis lingkungan, para mahasiswa setidaknya mengesampingkan ketergantungan akan kebersihan lingkungan yang menjadi tanggung jawab petugas dan perangkat kampus saja.


Sehingga menghasilkan daya juang terutama bagi mahasiswa baru (Maba) untuk mengetahui kondisi dan masalah-masalah lingkungan yang terjadi di sekitarnya baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Sepengetahuan saya,  hal itu mudah diraih andai saja mahasiswa baru mau dan menyadari pentingnya keberlangsungan alam dan lingkungan sekitar.

Disini lah salah satu kerja nyata organisasi yang bergerak di bidang kepencinta alaman atau bisa juga dikatakan organisasi berbasis Lingkungan Hidup (LH) yang ada di kampus.  Mengkampanyekan upaya promotif dan preventif.

Kian penting penerapan usaha itu guna membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan atau sanitasi lingkungan. Juga pengenalan akan cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara.

-------
Berbicara pengalaman pribadi saya pada medio 2010 lalu, saat saya baru menjajaki dunia kampus. Saya merasa beruntung diberi kesempatan untuk belajar lebih jauh mengenai dunia kepencinta alaman atau pun LH melalui organisasi Pencinta Alam.

Dunia yang dianggap orang awam, hanya orang yang hanya menghabiskan waktu kuliahnya di alam bebas, bergelut di lingkaran ekstrem, penuh resiko tantangan atau hanya diisi orang berlatar belakang  Pemanjat,  Pramuka, Pendaki gunung atau yang gemar berpetualang saja,

Namun sejauh ini, setidaknya, saya sudah tidak seapatis dulu, yang membiarkan segala aktifitas tidak pro lingkungan tempat saya berada.

Mulai terasa muncul bibit untuk berbudaya bersih dan menyelaraskan kehidupan sehari-hari dengan lingkungan sekitar dengan menjaga kebersihan Sekretariat Mapala Cadas.com ---- Walau pun tetap sebagai manusia kadang lalai membuang  atau melihat sampah yang berserakan.  hehe

Terlebih ketika saya mengikuti “Kuliah” gratis semasa masuk menjadi calon anggota dari organisasi Mapala Cadas.com.  Sedikitnya pengenalan tambahan terhadap dunia kepencinta alaman seperti Mountenering Gunung Hutan (GH), Rock Climbing (RC), Caving (Goa), LH dan SAR dijelaskan secara gamblang.

Ditambah, dengan pendidikan tambahan di alam bebas bertajuk Pendidikan Cinta Alam (PDCA) 5, untuk menyadari pentingnya keberadaan alam sekiktar dengan objek yang berada di tengah-tengahnya,

Saat itu angkatan saya yang berjumlah 9 orang dari mahasiswa tahun 2010 di 3 jurusan yang ada di kampus.
Dilatih akan sifat dan sikap mendidik, berkarakter, berwatak  dan berjiwa kepemimpinan,  khas cinta alam.  Dengan penanaman nilai nilai spritualis, patriotisme, dan juga nasionalisme melalui indotrinisasi dari panitia PDCA.

Disamping itu, menarik lagi, ada  hal lebih yang di dapat saat saya memperoleh ikatan baru dengan saudara-saudara baru di dalam kehidupan saya—terkait adanya kode etik di pencinta alam ke 3, bahwa sesama pencinta alam di seluruh Indonesia merupakan saudara.

Bergelut di dalamnya,  ke fase selanjutnya, ketika di tantang untuk memperoleh peningkatan belajar atau menjadi anggota penuh, menjadi barang tentu di organisasi segitiga merah--- sebutan Mapala Cadas,.com  itu untuk diberikan tanggung jawab dengan pengabdian yang lebih kepada organisasi, kampus maupun masyarakat.  Berupa dedikasi atau pengorbanan tenaga, pikiran dan waktu demi keberhasilan suatu usaha.

Memang berat, namun disisi lain, di titik inilah proses pembelajaran  berorganisasi yang tentunya sayang untuk dilewatkan ketika kita menjadi mahasiswa.  Mental,  karakter dan ketahanan menghadapi masalah, nantinya yang akan berbicara banyak ketika kita di dalam dunia kerja.

Dari fase itu, yang mungkin kental dirasakan  berkaitan dengan konsistensi dan komitmen yang coba ditumbuhkan ke masing-masing pribadi.

Sebelumnya pula, sekedar berbagai cerita ada hal menarik yang sedikit membuat saya untuk belajar.  Saat masih berslayer hijau----identitas anggota muda di Mapala Cadas,com, suatu ketika saya mendaki gunung di daerah Poso, Sulawesi Tengah (SulTeng) saya pernah ditanya oleh anggota mapala dari Poso, apa itu Pencinta alam.

Dan apakah tahu perbedaan dari Pencinta atau Pecinta Alam. Dan apa dedikasi mereka untuk lingkungan (---baca juga Pencinta atau Pecinta).
Pertanyaan yang begitu mendasar itu cukup membuat saya tercengan. Yang menjadi bukti, ternyata eksistensi saya di organisasi pencinta alam masih perlu terus diasah walau dari hal yang besarnya hanya sebiji jagung.

Kala itu, pertanyaan yang begitu sepele itu membuat saya sedikit kebingungan, karena mungkin terbiasa mengacuhkan kata-kata yang  nyaris sama ketika disebutkan itu.  Sempat saudara-saudara tua saya, sebut saja  Satwika Parahita (Kimut) dan Alison Jr (Lereng) mencoba membantu dan meluruskannnya. 

Kesimpulannya, diketahui, selain mendaki gunung menjadi media penyaluran hobi sebagai anggota Mapala Cadas,com saat itu. Proses Pencapian Puncak tertinggi, pengetahuan Navigasi, Flora dan Fauna di alam bebas,  juga  menjadi seorang Mapala membuat saya bisa belajar kapan dan dimana saja tentang alam dan  individu individu yang memperjuangkan keberadaanya—Pencinta Alam.

Mungkin,  juga dalam skala luas kita bisa terlibat dalam perjuangan masalah-masalah lingkungan yang disesuakin dengan beragam aspek, kita bisa menyoroti isu-isu daerah soal penggundulan hutan, Flora dan Fauna yang hampir punah, bencana alam, lumpur lapindo, lobang bekas tambang yang marak terjadi di Kalimatan dan banyak lagi hal yang mengglobal soal ancaman terhadap lingkungan sekitar.

Dan juga  paling tidak dari pengetahuan itu sedikit membuka potensi  yang dapat menghilangkan sifat apatisme yang “biasanya” menjangkit para mahasiswa baru (maba) akan lingkungan sekitar mereka. He-he.
-------------
Karena, pergolakan kehidupan sosial kampus sebenarnya tidak melulu mengenai bidang akademisi. Dilihat  dari permasalahannya, segala teori, metode dan praktek yang mereka pelajari di kampus. Berkaitan denganLingkungan yang menjadi tempat keberlangsungan kita belajar. Kebersihan, kenyamanan dan keamanan menunjang segala aktifitas sosial kita.
Dan, dari sana organisasi intra kampus  juga mengambil peranan penting dalam penalaran keilmuan soal itu.

Menyangkut LH, dijelaskan oleh Tri Daniah Daniati ketua umum Mapala Cadas.com 2012.  Pelaksanaan program kepedulian lingkungan dan penanggulangan sampah yang segala pemberdayaannya sebagai bagian dari kerja seorang Pencinta Alam. 

Secara garis besar juga dijelaskan, program kebersihan lingkup kampus di canangkan, mulai dari program Jumat bersih . Bank sampah yang dilakukan dalam skala kecil (lingkup kampus) hingga kedepannya menyasar kepada masyarakat luas.

“Melakukan update info LH . Kerjasama dengan instansi-instansi terkait untuk melakukan tindakan nyata sebagai bentuk pelestarian lngkungan. Semua itu dilakukan demi menyusun kegiatan yang  membentuk jiwa Environtmentalis muda sebagai green generation,” jelasnya.

Saat rutin memperingati Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada 5 Juni. Dengan menggandeng Instansi terkait seperti Perusahaan Migas, Pemkot, Mahasiswa, Siswa dari bermacam sekolah mereka melakukan aksi.  Mulai aksi bagi-bagi makanan sebagai bentuk apresisasi kepada petugas kebersihan Dinas Kebersihan Pemakaman dan Pertamanan (DKPP). 
Dilanjutkan membuat penanaman dengan 250 bibit hasil kerjasama dengan BP Migas---kini SKK Migas di kawasan Wadung Manggar Kilometer 12 dan si sekitar Hutan Kota
Tidak hanya itu,

“Demi menunjang semua kegiatan itu, kami membarenginya dengan  pembekalan kepada masyarakat dan mahasiswa pada seminar dengan mengundang pemateri-pemateri profesionl dari Distamben, LSM, HSE Chevron, Total maupun Stan Lotha pengamat lingkungan asing,” tambahnya. Juga intens mendalami materi pembelajaran mengenai Botanical Zoology (BOZ) dan berbagai penelitian terhadap Flora di dalam pengembangannya.

Atau sekalipun dalam hal penanggulangan bencana sosial, pada saat kegiatan Temu Pecinta Alam XII Mapala Cadas.Com bulan September 2012 lalu, di gedung KNPI Balikpapan  melibatkan Badan SAR Nasional (Basarnas).
Atas inisiasi dari Mapala Cadas.com itu sekitar 20 peserta yang terdiri dari mahasiswa berbagai perguran tinggi mendapat Sertifikasi SAR Nasional setelah mengikuti pelatihan selama 3 hari. Juga bagi para anggota aktif Mapala cadas.com yang merasakan manfaat Sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi mereka.
--------

Sederhananya, bisa dikatakan kerja nyata kita sebagai Pencinta alam, organisasi yang berbasis lingkungan hidup dan petualang. Yakni menerapkan budaya bersih dan hijau kepada lingkungan dan masyarakat sekitar 
Sedangkan, secara pribadi dari sisi petualangan lebih mengarah kepada penyaluran hobi semata oleh para anggota untuk menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan alam bebas seperti naik gunung, Caving, Rock Climbing dan lain-lain.
Dan dalam penerapanya kedua hal yang menjadi esensi organisasi mapala selalu berjalan bersamaan dan berimbang.
Sebagai bentuk kepedulian mahasiswa yang menjaga ingkungan sekitar serta menjalankan  fungsi Tri Dharma Pendidikan yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Dan sekali lagi, ini dikarenakan Alam merupakan entitas yang hidup. Dan manusia menjadi bagian di dalamnya.

Oleh : Tirus (NTA.CC.05.11.043)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar