Label

Minggu, 08 September 2013

Pencinta atau Pecinta

Seiring perkembangan sosial media, saya sering memperhatikan tulisan dan status yang beredar  di jejaring sosial. Ada yang menulis kata ”Pencinta”, maupun “Pecinta”. Meski merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia kata yang menurut saya harus digunakan adalah ”Pencinta”. Secara subjektif, sulit membedakan makna dari dua kata tersebut, hampir sama penyebutannya jika kita dihadapkan dengan beberapa kata seperti “Amblas” dengan “Ambles”,  “Lengang” dengan “Lenggang”, “Runtut” dengan “Runut” dan lain-lain.

Kata-kata tersebut, sekilas terdengar hampir sama, namun sedikit membingungkan.  Banyak pula yang terkecoh jika menafsirkan keduanya.  Berangkat dari sana banyak yang menganggap dirinya “Pencinta”, padahal “Pecinta”. Begitupun sebaliknya.Selain sekilas, kata-kata ini memang terdengar mirip. Wajar kalau tertukar penggunaannya. Beragam persepktif yang ditimbulkan ketika menyebut dua kalimat itu,  namun ada juga yang  memilih tidak ambil pusing, dengan tidak memperdulikan pertentangan dua kalimat itu.Kedua kata itu mempunyai perbedaan yang cukup kontradiktif. “Pencinta” diartikan sebagai orang yang cinta terhadap sesuatu. Sedangkan “Pecinta” diartikan sebagai orang yang bercinta atau menaruh cinta terhadap sesuatu. Namun tidak sesederhana artikulasi dari dua kata di atas, lebih dalam ditelusuri makna dari kedua kata itu mempunyai kata dasar yang sama yaitu kata cinta atau suka sekali; sayang benar:  yang mungkin penerapannya cinta terhadap apa yang ada atau kepada sesama makhluk.
Dalam konteks ini, pencinta atau orang yg sangat suka, atau sepandangan saya terkait dunia kepencinta alaman yang telah saya geluti erat korelasinya dengan objek yang mendedikasikan waktu terhadap kepeduliaannya kepada  lingkungan sekitar.***Saya rasa kita sudah mempunyai sedikit gambaran kemana arah pembahasan ini. Berbicara pencinta alam, yang ada di pikiran masyarakat umumnya pastinya mengacu kepada sekelompok itu atau komunitas yang berkomposisikan siswa, mahasiswa dan masyarakat yang menggembor-gemborkan pemikiran mereka untuk melakukan konservasi pada lingkungan sekitar.  Tapi nyatanya masih banyak saya temui orang yang memaknai dirinya, dengan tetap menggunakan ungkapan “Pecinta” atau orang yang bercinta dengan alam. Secara subjektif saya memandang, hal ini terjadi akibat tidak adanya kesadaran mereka untuk memaknai apa yang telah tersematkan pada mereka  selama ini. Dan ini malah terkesan kontraproduktif atau merugikan bagi mereka yang menyebut diirnya sebagai “Pencinta alam”—dalam arti sebenarnya.  Implementasikan pada apa yang mereka cita-citakan selama ini, jika melihat makna yang mereka sering lupakan dari kalimat “Pencinta” juga tidak cukup hanya dengan melaksanakan kewajiban, konservasi, keorganisasi, kegiatan outdoor, Rock Climbing (RC), susur goa terlebih pada mereka yang hanya menganggap pencinta sebagai penyalur hobi personal berkegiatan di alam bebas. Jika begitu apa mereka masih disebut “Pecinta”. Kembali lagi, sepele, jika psikologi kita dihadapkan pada kata Pencinta. Contoh kata, jika seseorang tersematkan kata tersangka, maka secara psikologis dia sudah dikatakan sebagai orang bersalah.  Sama jika kita memahami benar makna “Pencinta”, maka psikologis serta tindakan kita dalam keseharian juga akan merepresentasikan arti sebenarnya  seorang pencinta alam sejati. Alam jangan hanya selalu di manfaatkan untuk kegiatan kita. (menelusuri gunung, goa, tebing dll). Sebenarnya mencintai alam gak mesti ke hutan, naik gunung dll.  Sederhananya, kalau cuma tujuannya ke hutan ya namanya pencinta hutan. Mulai lah dari hal kecil disekitar kita, memungut sampah dan peduli kebersihan di lingkungan sekitar. Kan, kalau tidak bisa menjalankan fungsi sebagai pencinta kita juga harus legawa menerima konsekuensi kita sendiri yang merupakan seorang pecinta atau orang yang hanya bercinta”. Artinya klo kita mau di anggap sebagai pencinta, harus kita lebih peduli dan lebih fanatik. Caranya, cari solusi-solusi, tidak cuma menjaga tanpa memberi solusi”. Dan jangan sampai ternyata protes kita pada pengrusakan lingkungan itu cuma smpai di spanduk atau slogan doang tanpa ada realisasi yg nyata dan cepat.
Created : Tirus
                 NTA.CC.05.11.043

5 komentar: