Label

Senin, 29 September 2014

Bakti Sosial, Juga Gali Keanekaragaman Hayati Gn Meliat

Tak perlu jauh-jauh ke Jawa, Sumatera atau Sulawesi bagi penggiat alam bebas khususnya di Balikpapan yang hobi mendaki gunung. Sebab di ujung perbatasan Kaltim-Kalsel terdapat kawasan yang menyimpan potensi keanekaragaman hayati dan budaya Desa Busui, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser.

Pada  Rabu, (3/9) lalu, empat orang Anggota Muda Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan melakukan pendakian ke Gunung Meliat (salah satu bagian dari Pegunungan Meratus).



Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Pendidikan Dasar Cinta Alam (PDCA) ke-VIII. Selain mendaki, para anggota muda dalam organisasi ini juga melakukan pengamatan dan mendata terkait kekayaan sosial budaya serta keanekaragaman hayati kawasan sekitaran Gn Meliat tersebut.

Sepanjang perjalananya memulai perjalanan mereka di bina dan di bekali ilmu perjalanan dan berkegiatan di alam bebas oleh Divisi Gunung Hutan. Beberapa materi yang kental dengan aktifitas alam bebas seperti Manajemen Perjalanan, Navigasi Darat, Mountenering Resque dan Survival (Cara bertahan hidup di alam bebas). Persiapan fisik individu maupun kelompok turut tak tertinggal.

Diketahui, sesuai pendataan ketinggian terakhir, gunung ini “hanya” memiliki ketinggian 777 MDPL (Bakorsutanal 1991). Meski begitu, setiap melakukan pendakian di gunung ini, dijamin akan mempunyai pengalaman yang tidak didapatkan di gunung-gunung lainnya.

Medan terjal yang di penuhi batu-batuan cadas, kerapatan vegetasi di sepanjang jalan akan mudah ditemui sebelum mencapai puncak gunung tersebut. Hal itu merupakan bagian daripada ciri khas bentang alam hutan Kalimantan yang tidak ditemui di daerah lain.

Dalam beberapa kesempatan pun, kami sempat mengajak teman sesama mahasiswa dari daerah lain seperti Sulawesi Tengah, Utara, Jawa dan berbagai daerah lainnya. Kesan yang keluar pun sama, Meliat tidak bisa disamakan dengan gunung lainnya.

Hingga sepulang dari gunung ini kami membawa pesan bagi para penggiat alam bebas yang ada di kota Balikpapan. Sebelum mendaki lebih jauh, alangkah baiknya mendaki gunung terdekat  dulu. Sebab selain mengenalkan potensi keanekaragaman budaya dan hayati kawasan tersebut,  tentu kita bisa ikut memelihara, menjaga kekayaan budaya serta kelestarian lingkungan sekitar daerah kita.


Mengajar di SDN 008 Desa Busui

Menyandang status mahasiswa tentu mempunyai beban moral tersendiri. Apalagi, ketika berkunjung ke daerah yang terbilang jauh dari hiruk pikuk kota, modernisasi serta kemajuan teknologinya. Menjadi kewajiban tentunya untuk membagi pengetahuan yang ada.
Hal itulah yang menjadi tradisi Mapala Cadas.Com setiap melakukan pendakian untuk mengajar di sekolah dasar di kawasan setempat. Bagaimana tidak, keadaan disana cukup memperhatinkan.
Satu kelompok belajar hanya diisi oleh beberapa siswa saja. Kelas 1 diisi oleh 8 orang sementara untuk kelas 2 hanya diisi oleh 10 orang saja. Ya, di SDN 008 Kunjung namanya hanya terdapat dua kelas saja.

Hal itu disebabkan oleh minimnya dana untuk membangun sarana dan prasarana berserta infrastruktur sekolah.

Sehingga bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke kelas berikutnya yakni kelas 3 hingga selesai  hanya bisa melanjut di desa sebelah yakni di Desa Serakit. Jarak yang harus ditempuh untuk menuju desa tetangga terbilang cukup jauh atau sekitar 1 jam dari Desa Busui. Itu pun dapat dilakukan dengan menumpang bus perusahaan maupun menumpang kendaraan yang lewat. Tak sedikit insiden yang terjadi hingga menimbulkan korban dari cara tersebut.

“Pas lagi mau berangkat sekolah, mau berhentikan mobil pernah ada anak yang meninggal. Dari sana setelah selesai dari kelas 2 banyak warga sini yang enggan atau takut melanjutkan anaknya sekolah,” kata guru SDN 008 Desa Busui.

Terlebih tenaga pengajar hanya ada dua guru. Itupun guru kirimin yang hanya mengajar agama islam.  “Dulu sempat ada kepala sekolah, Cuma rencana sekolah ini mau di besarin. Namun terkendala oleh minim dana, “ kata Resom, tokoh adat setempat.
Selain mengajar dalam beberapa kesempatan kami pun sempat membagikan buku-buku hasil sumbangan dari masyarakat kota Balikpapan.



Mulai dari Ngompreng sampai numpang dirumah warga (Akses)

Perjalanan dimulai dari sekretariat Mapala Cadas.Com di Jalan Soekarno Hatta, KM 8 STT Migas, menuju Pelabuhan Ferry Kariangau, Sesampainya disana tim lansung membeli  tiket untuk menyebrang ke Penajam Paser Utara (PPU).
Perjalanan diatas ferry memakan waktu kurang lebih 2 jam sengaja dipilih menyebrang menggunakan ferry karena dianggap lebih muda untuk menemukan mobil Tumpangan yang sering kami sebut “omprengan”. Walau hanya sampai kawasan Petung PPU. Kami bertukar  omprengan lagi yang membawa  kami lansung di Desa Busui yang merupakan kaki Gunung Meliat.
Oh ya, sebelum sampai di kaki Gn Meliat, di daerah Batu kajang, sekitar 15 kilo meter dari Desa Busui- kami harus menyerahkan surat laporan kegiatan dan surat tugas sebagai izin ke Polsek Batu Kajang.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 21.00, tim tak juga menemukan tumpangan, untuk itu pun kami memutuskan untuk menginap di teras rumah milik warga setempat,
Setelah memperoleh izin untuk menginap kami lansung melakukan Cleaning teras rumah untuk dijadikan tempat kami beristirahat, bukan hanya itu beliau juga menyiapkan minuman untuk kami, setelah proses pembersihan selesai kami lansung melakukan evaluasi dari kegiatan seharian serta brefing untuk agenda besok, lalu tidur.

Trek yang Ekstrem

Pendakian dimuali dari rumah milik Kai Resom, kepala adat Desa Busui, sekitar pukul sembilan, sesampainya di pinggir sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah kai, kami lansung melakukan Orientasi Medan (Ormed) untuk menentukan posisi kita di peta serta jalur yang akan kita lewati, begitu selesai kami menyebrang  sungai yang kebetulan debit airnya tidak terlalu tinggi sehingga tidak memakan waktu lama untuk menyebrang. Disini kami mengaplikasikan tekniik penyebrangan basah yang di dapatkan sebelumnya.

Tim melakukan perjalanan dengan melawati trek yang naik turun baik bukit ataupun berupa tebing serta pohon-pohon kecil yang cukup rimbun, beberapa pohon yang cukup besar memiliki ketinggian kurang lebih 15-20 meter, serta melewati hutan bambu. Tak kurang dari 4 pos yang kami lewati sebelum mencapai Puncak Sejati Gn Meliat ini.

Di beberapa pos, kami menemukan hewan-hewan seperti, Tikus Hutan, Semut marabunta, dan Binatang seperti Burung Enggang dan Monyet Ua Ua, yang lewat diatas pohon tempat kami membangun camp. Tumbuhan disini pun sangat rapat dan berukuran Besar, pohon yang  besar memiliki ketinggian sekitar 40-50 meter dan Diameter rata-rata kurang lebih 70 cm, serta pepohonan kecil yang Rimbun.

Selain itu, tim juga menemukan sehelai bulu yang di perkirakan merupakan bulu Burung Enggang, yang berada dibawah sebuah pohon yang berukuran besar dengan perkiraan ketinggian 50-60 meter, dan diameter 90-100 cm serta pepohan yang berukuran sedang dan kecil.
  


Created : Mayan (NIM : 13.01.241)
Edited : Tirus (NTA.CC.05.11.043)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar