Label

Rabu, 21 Januari 2015

Chapter 1. Jelajah Gua di Benuo Taka. Kaya Potensi, Minim Perhatian


Pagi yang cerah mengiringi langkah anggota Mapala Cadas.Com, Selasa (13/1) untuk melakukan survei beberapa gua yang ada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tepatnya di Kecamatan Waru.
 
Setelah sebelumnya melakukan komunikasi dengan Dinas Kominfo Kabupaten PPU sehari sebelumnya serta persiapan anggota dan perlengkapan. Pagi itu, kami bertiga langsung menuju pelabuhan Kampung Baru untuk selanjutnya menuju Kabupaten PPU.
 
Sesuai janji dengan pihak Dinas Kominfo, Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan mendapat kesempatan untuk melakukan survei awal beberapa gua yang ada di Kecamatan Waru. Menurut informasi yang diperoleh dari Suherman, Kecamatan Waru menyimpan potensi goa yang cukup menarik untuk ditelusuri.
 
Selain sebagai langkah awal pemetaan potensi kawasan gua di Kecamatan Waru, agenda kali ini juga bermaksud untuk menjalin komunikasi yang lebih serius dalam rangka pelestarian kawasan gua maupun karst yang di sekitar Desa Api-api, Kecamatan Waru, Kabupaten PPU. 

Di Pelabuhan Penajam, rombongan Mapala Cadas.Com langsung disambut oleh pihak Kominfo. Usai berbincang, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Kantor Kecamatan Waru yang berjarak sekitar 30 menit dari Ibu Kota Kabupaten PPU.
 
Penelusuran gua kali ini cukup istimewa karena di damping langsung oleh Camat Waru Warsidi. Dari percakapan kami dengan Pak Camat, terlihat beliau sangat antusias dengan potensi baru yang dimiliki oleh daerahnya.
 
“Saya suka juga sebenarnya agenda seperti ini, ya merasa seperti kembali ke masa muda lagi,” guraunya mencairkan suasana.
Selaian Pak Camat, anggota Mapala Cadas.Com juga didampingi oleh beberapa pegawai dari Dinas Kominfo Kabupaten PPU dan pegawai PT Waru Kaltim Plantation (WKP) yang bertindak sebagai guide kami selama perjalanan menuju gua. Tepat pukul 10.00 waktu setempat rombongan berangkat dari kantor camat, sekitar 40 menit waktu tempuh menuju lokasi berikutnya. 
 
Menunggangi mobil 4 wheel rombongan langsung bergegas menuju lokasi gua yang berada di kawasan PT WKP. Jalanan berbatu di antara perkebunan kelapa sawit dengan mulus dilewati. Tujuan awal tim kali ini adalah kantor PT WKP dengan tujuan meminta izin dan membahas pengelolaan gua. Tim langsung disambut oleh pimpinan PT WKP Yayat Ruhiyat.

 Pihak perusahaan, dikatakan Yayat sangat mendukung usaha pendataan dan konservasi kawasan gua serta satwa yang berada di dalam wilayah perkebunan.
 
“Saya ingin anak cucu kita bisa menyaksikan keindahan alam ini, jangan sampai nanti tidak tersisa untuk dilihat,” terang pria pencinta batu cincin ini.
 
Usai melakukan pembicaraan dengan pihak perusahaan, tim langsung menuju lokasi gua yang pertama yang berada di Bukit Besiang. Dibutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai lokasi, vegetasi didominasi oleh semak dan jalan mendaki sekitar 70 meter dari lokasi parkir mobil, ketinggian lokasi gua kurang lebih 104 Mdpl. Gua tersebut dinamai sesuai dengan nama bukit di mana gua berada, yakni Gua Besiang. 
 
Gua dengan panjang sekitar 700 meter dan tergolong dalam gua kering ini memiliki beraneka ragam ornamen di dalamnya diantaranya avent, stalactite, stalacmit, pool rimstone  flow stone,pillar, draperies dan habitat dari beberapa satwa yang kerap ditemui di lingkungan gua seperti jangkrik gua, laba-laba gua, kelelawar, dan kelabang kaki panjang (scutigeridae).













Menyusuri gua ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam sebelum akhirnya berujung di sisi lain gua dan kembali ke titik awal. Di dalam Gua Besiang terdapat 2 titik zona vertical yang belum ditelusuri dikarenakan keterbatasan alat dan waktu.
Beranjak dari Gua Besiang, sekitar pukul 14.00 Wita tim melanjutkan penelusuran ke gua kedua yakni Gua Loteng. Nama Loteng, dikatakan Warsidi di ambil dari lokasi dan bentuk batuan di dalam gua yang berada di atas Gua Besiang ini terdapat bentuk ornamen gua yang nampak melayang dari dasar gua.


Dari hasil pengamatan, Gua Loteng memiliki kesamaan biospeleologi dan jenis gua dengan Gua Besiang, namun di Gua Loteng jumlah populasi kelelawar jauh lebih banyak . dikatakan Warsidi, masyarakat sekitara memanfaatkan kotoran kelelawar yang ada di Gua Loteng sebagai pupuk.
Di gua ke dua ini, tim hanya melakukan penelusuran sejauh 45 meter, dikarenakan kelelawar yang terusik dan atap gua yang cukup rendah sehingga kurang memungkinkan untuk melanjutkan penyusuran.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan Toyota Hilux menuju lokasi gua ketiga yang masih tak bernama. Gua ketiga ini berjarak sekitar 15 menit  dari Gua Loteng  dan memerlukan waktu sekitar 15 menit  untuk penelusuran. Namun dalam gua ini terdapat cabang yang menyempit dan masih bisa ditelusuri dengan bantuan alat pengaman tentunya. Hewan yang ditemukan di gua ini adalah kelelawar.

Dari pengamatana, gua ini sudah dilengkapi dengan beberapa fasilitas dari pihak perusahaan berupa potongan kayu sebagai lokasi istirahat dan obor sebagai penerangan yang sebenarnya tidak direkomendasikan dipasang di dalam gua.




Tujuan terakhir hari itu adalah air terjun dengan ketingian sekitar 8 meter yang berada sekitar 10 menit perjalanan menggunakan mobil, pemandangan di sekitar air terjun masih cukup alami dengan dikelilingi oleh batuan karst.

“gua basahnya ada di balik (hulu) air tejun ini mas, tapi kita harus ambil jalur memutar,” ujar Warsidi.


Namun, mengingat waktu telah menunjukkan pukul 15.05 Wita tim memutuskan untuk menunda survei goa ke empat hari itu. Setelah mengabadikan moment dan menikmati segarnya air di tengah cuaca terik, tim kembali ke kantor PT WKP sebagai tanda penutupan survei potensi alam Desa Api-api Kecamatan Waru, Kabupaten PPU kali ini.
 
Pihak pemerintahan dan perusahaan mengaku bersedia membantu untuk tahap pendataan dan tindak lanjut berikutnya, dengan berlandaskan asas konservasi dan pengembangan potensi daerah.
 
Alam telah menyediakan segala sesuatu yang manusia butuhkan, namun kebijaksanaan manusia yang menentukan. 
Kekayaan alam adalah titipan dari anak cucu kita,bukanlah semangkuk sup yang dengan nikmatnya kita habiskan.

Salam Lestari ...   
 Cepot/Rahul