Label

Jumat, 28 Juni 2013

Garang Berbalut Feminin





TIDAK banyak perempuan yang menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi berbasis pendidikan dan petualangan. Sosok yang satu ini, satu dari sekian yang menerima tantangan bergumul dengan rutinitas garang.
Sisi lembut sebagai perempuan kerap dibenturkan dengan kerasnya pergolakan ide dan kreativitas yang berjalan dalam organisasi yang dipimpinnya. Namun semua proses dinikmati sebagai sebuah pelajaran.
“Organisasi ini beda. Kekeluargaan menjadi fondasi penting bagi kami,” sebut Tri Daniah Daniati. Nilai persaudaraan juga menjadi titik awal ketertarikannya bergabung medio 2010 lalu. Di organisasi ini pula, dia mendapati dinamika kehidupan pondok pesantren yang dilewati ketika menamatkan SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin, Balikpapan.
“Di sini (Mapala) kental akan itu. Banyak pelajaran, bukan hanya akademis, pelajaran kehidupan juga kami dapat,” tutur Muyal, begitu dia disapa.
Menjabat sebagai ketua umum Mapala Carmine Delta Adventurers Community (Cadas.Com) diakuinya menambah banyak ilmu. Interaksi internal memberinya banyak pesan menjadi pribadi lebih baik. Naluri kepemimpinannya terus terasah. Komunikasi dan bertemu banyak orang dan pemikiran memperkaya sudut pandang.
“Kami di sini saling berbagi. Saling memberi pelajaran dan pesan melalui dinamika proses yang terjadi,” aku gadis berkerudung ini.
Banyak kegiatan yang telah dia ikuti selama bergabung. Bahkan 2011 lalu, mahasiswi semester V jurusan Teknik Perminyakan ini menjadi satu-satunya peserta perempuan dalam kegiatan Sekolah Petualang Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan.
Selama lima hari, dara manis ini melakukan perjalanan lintas Gunung Lompobatang-Bawakaraeng yang berakhir di Maros. Perjalanan yang semakin menumbuhkan kecintaan kepada sekitar. Memahami budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Salah satu event nasional yang pernah dia ikuti adalah Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) Mapala Tingkat Perguruan Tinggi Se-Indonesia di Bandung, Jawa Barat, 2012 lalu.
Putri ketiga dari pasangan Sukarjo (alm) dan Sri Dariyanti ini juga menjadi relawan pengajar yang dilakoni bersama rekan organisasi di SD 008 Kunjung, Desa Busui, Kabupaten Paser. Pendidikan tentang lingkungan, agama, bahasa Inggris, adalah beberapa poin ilmu yang coba ditularkan.
“Kami mengajar tidak berpatok pada sistem pendidikan di sekolah. Lebih kepada sharing. Begitu juga dengan masyarakat di sana,” ujar gadis yang pernah menyabet peringkat dua Pekan Olahraga dan Seni Antar-Pondok Pesantren Tingkat Nasional (Porpenas) di Surabaya, 2010 silam.
“Minimal sebulan sekali kami bergantian mengunjungi adik-adik di sana membawakan buku-buku bacaan. Juga kebutuhan lain seperti kertas dan alat menggambar,” tuturnya, menutup pembicaraan.  

Oleh: Erik Alfian - Edwin Agustyan 
(Edited Felanans Kaltim Post)

2 komentar:

  1. Artikelnya Menarik sodara... Sukses Untuk Cadas..

    Salam Lestari dari http://www.greempanks.com/

    BalasHapus