Label

Selasa, 14 Juni 2016

KDKL Pengalaman Pertama di luar Kalimantan

Gua. Surga bawah tanah yang dibentuk oleh sang Pencipta dengan bermacam keindahannya.

Rasa penat masih tersisa ketika saya sampai di Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurer’s Community (Cadas.Com) Setelah 1 minggu mendampingi kegiatan Bakti Sosial Anggota Muda. Gelap yang tak dapat dibendung dan hawa yang dingin masih menyelimuti tempat yang sudah saya anggap sebagai rumah itu.

Terkejut rasanya ketika mendapat kabar dari salah seorang senior yang kerap saya sapa “Bang Cicak” untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan Kursus Dasar Kursus Lajutan (KDKL) Penelusuran Gua dan Lingkungan Sekitarnya di Ciamis, Jawa Barat. Penunjukan saya sebagai delegasi untuk kegiatan tersebut terbilang mendadak. Ternyata calon peserta yang akan didelegasikan tidak mendapat izin dari orangtuanya.

Rasa senang bercampur bingung merasuki pikiran saya. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama saya berangkat mengikuti kegiatan sendirian. Di tempat yang belum pernah saya singgahi serta teman - teman Mapala dari luar pulau Kalimantan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tapi ilmu baru yang akan saya dapatkan pada pelatihan nanti menjadi motivasi saya untuk berangkat mengikuti kegiatan ini.   

Saya mulai mempersiapkan perlengkapan yang ada di sekretariat sampai dengan tiket keberangkatan pesawat untuk keesokan harinya. Ternyata alat yang tersedia di sekretariat masih belum lengkap. Dengan usaha semaksimal mungkin saya mencoba melengkapi alat yang saya butuhkan, sampai-sampai satpam kampus yang sedang berjaga pada saat itu (pukul 03.00 Wita) saya datangi untuk sekedar meminjam sepatu boat. Pagi harinya saya menghubungi panitia pelaksana dan menceritakan kendala yang ada. Alhasil panitia pelaksana berbaik hati akan menyedikan alat saya yang masih belum lengkap.

Sekitar pukul 11.00 Wita saya diantar ke bandara untuk menuju Kota Metropolitan Jakarta. Setibanya di Ibu kota, saya langsung menghubungi senior untuk menanyakan rute yang harus saya lewati. Tujuan selanjutnya adalah terminal Kampung Rambutan. Selama 1 jam perjalanan saya duduk di dalam bus damri sambil memandangi kota dengan tingkat kemacetan tertinggi itu.

Sesampainya di terminal Kampung Rambutan, saya mulai antri untuk turun mengikuti penumpang lain yang nampaknya sudah akrab dengan keadaan kota ini. Masih di dalam bus, saya merasa ada sesuatu yang janggal dengan keadaan terminal ini. Banyak lelaki berkumis yang memegang rokok sambil melihat dan menunggu tepat di depan pintu penumpang yang keluar dari bus yang saya tumpangi ini. Ternyata mereka adalah calo yang sedang mencari mangsa.

Begitu keluar dari bus saya langsung didekati salah seorang diantara mereka. “mau kemana dek?” tanya calo, “nggak pak, sudah ada yang jemput” jawab saya sambil mengangkat carier sesuai arahan dari Bang Kebo. Ya, sebelumnya saya memang sudah dibekali cara untuk menghindar dari para calo. Sambil berjalan mencari bus tujuan Ciamis, saya terus didekati beberapa calo secara bergantian. Mulai dari pendekatan secara halus, bahkan sampai ada yang menggengam tangan saya. 

Akhirnya bus yang saya tumpangi berangkat meninggalkan terminal Kampung Rambutan menuju Ciamis pukul 18.00 Wib. Selama 6 jam saya duduk dan tertidur di bus sebelum akhirnya tiba di Ciamis pukul 00.00 Wib. Saya dijemput salah seorang panitia kemudian diantar ke sekretariat Galuh Mahasiswa Pencinta Alam (Gamapala). Rasa lelah yang tak tertahankan memaksa mata saya langsung terpejam.

Pukul 06.30 Wib semua peserta dibangunkan untuk bersiap sebelum melakukan registrasi dan kemudian mengikuti acara pembukaan. Saya bertemu peserta lain dengan gaya bahasa dan asal yang berbeda, membuat saya sedikit canggung untuk memulai percakapan. Saya duduk dan mulai memperkenalkan diri, ternyata tidak sesulit seperti yang saya bayangkan. Keakraban sangat mudah dijalin karena mengacu pada Kode Etik Pencinta Alam nomor 3 yang intinya “Sesama Pencinta Alam adalah Saudara”.

Pembukaan dimulai, saya dan seorang peserta yang berasal dari Padang mendapat kehormatan mewakili peserta lain untuk menerima helm dan headlamp dari Rektor Universitas Negeri Galuh (Unigal) secara simbolis yang sekaligus membuka jalannya kegiatan.

Setelah pembukaan kami diarahkan untuk mengikuti materi pertama yang berlangsung hingga sore hari. Pukul 19.00 Wib kami berangkat menuju Kawasan Kars Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam ini hanya kami lewatkan dengan tidur di bus.

Kegiatan berlanjut pada esok harinya, peserta bangun pukul 06.00 Wib untuk bersiap melaksanakan olahraga, sarapan dan kemudian melanjutkan materi. Siang harinya kami mengunjungi 1 gua dan dilanjutkan dengan mendata informasi dari warga mengenai keberadaan gua di daerah tersebut secara berkelompok. Ternyata gua di Kawasan Kars Parigi memiliki banyak mitos yang sampai sekarang masih menjadi kepercayaan warga. Mulai dari telapak kaki raksasa, permandian penari ronggeng dan masih banyak lainnya.

Setelah mendapatkan data, kami menyamakan data yang diperoleh dari berbagai kelompok. Lalu siang yang panas kami lalui dengan makan dan mengikuti materi kembali sampai matahari terbenam.

Malam hari kami disibukkan dengan belajar 1 materi penutup KD (kursus dasar) yang dilanjutkan dengan ujian untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya esok hari yaitu KL (kursus Lanjutan). Dengan menjawab seluruh rangkaian pertanyaan ujian tertulis kami menyelesaikan malam itu.

Ayam berkokok diiringi dengan kedatangan panitia menghampiri peserta yang mengawali pagi kami. Rutinitas masih sama dengan pagi sebelumnya yang menjadi agenda wajib sebelum kami mengikuti materi. Materi dilanjutkan, mulai dari pengenalan alat, rigging sampai cave mapping kami pelajari sampai siang hari, lalu dilanjutkan dengan simulasi di pohon tentang lintasan memasuki gua dengan 1 tali. Dimulai dari deviasi, intermediet sampai lintasan sambung kami pelajari sampai matahari terbenam.

Kami istirahat mandi dan makan sekitar 30 menit, kemudian malamnya belajar mengenai manajemen ekspedisi gua kemudian dilanjutkan dengan evaluasi materi yang telah kami dapatkan selama 1 hari dan istirahat malam menjadi aktivitas terakhir kami hari itu.

Rasa kantuk masih tersisa saat matahari mulai menampakkan dirinya. Kami menjalani aktivitas wajib kami pagi hari yang tak bisa dihindari. Materi biospeleologi menjadi pengantar materi pagi itu. Dilanjutkan materi dan simulasi yang sangat penting saat penelusuran gua yaitu vertical rescue, awal mempelajari terlihat sulit tapi lama kelamaan akhirnya bisa menerapkan pada simulasi pagi itu.

Kami mendapat waktu 30 menit untuk makan siang dan istirahat sejenak. Kegiatan kami lanjutkan dengan aplikasi mapping & rigging. Sebelum Aplikasi mapping peserta melakukan pembagian kelompok. Hujan gerimis mengantar kami ke 2 gua yang akan kami petakan dan lokasi pinggiran gua untuk belajar aplikasi rigging.

Menjelang hari gelap kami kembali ke basecamp dan istirah lalu makan malam, kemudian dilanjutkan lagi dengan belajar materi pengolahan data mapping. Setelah mendapat materi kami langsung aplikasi mengolah data dari 2 gua yang kami petakan. Pengolahan data kami lakukan sampai selesai walaupun sudah memasuki waktu istirahat.

Mata merah dan terasa seperti gaya gravitasi bumi sangat besar sehingga membuat sulit untuk bangun. Panitia yang tak mau kalah pun terus berusaha membangunkan peserta. Tidak ada alasan untuk bermalas - malasan, akhirnya kegiatan pagi yang sama seperti biasa kami jalani. Mengunjungi sungai yang langsung menuju gua menjadi aktivitas kami selanjutnya. Tentu pengalaman baru yang saya dapatkan. Berenang dengan pelampung menelusuri gua sungguh mengasyikkan.

Ditambah suguhan pemandangan ornamen - ornamen gua yang mengesankan tak terkatakan indahnya. Dengan dipandu instruktur kami terus memasuki gua tersebut, masih dengan atribut lengkap termasuk sepatu boat yang masih dikenakan tak menyulitkan kami untuk berenang. Situasi kali ini tidak terlalu tegang tapi tetap serius, sedikit seperti kunjungan wisata membuat peserta asyik melakukan hal yang disukai.

Sampai pada sebuah batu, tempat yang cukup untuk seorang peserta berdiri dan melompat ke air. Terjadi begitu cepat, lalu dia dimarahi salah seorang instruktur sembil memberikan sedikit “sentuhan di kepala” karena terlalu asyik. Dia hanya terdiam, sambil kebingungan dia mengatakan kepada saya kalau sebelah sepatu boatnya hilang. “sepatu boat gue hilang sebelah pas”, ungkap Bocel sambil terus mencari sepatunya di air.

Sampai kami keluar gua dia masih belum menemukan sepatunya yang akhirnya menjadi bahan tertawaan peserta yang lain. Tak terasa matahari sudah sampai di atas kepala, kami harus istirahat dan makan siang. Lalu kami menuju gua vertikal untuk mengaplikasikan materi dan melihat biota - biota yang ada dalam gua tersebut. Proses penelusuran gua berlangsung lama karena hanya memakai 3 lintasan dan kondisi gua yang cukup curam.

Sungguh gua yang indah, walaupun dengan ketinggian sekitar 60 meter tidak membuat saya gentar untuk memasukinya. Ini merupakan pengalaman pertama saya memasuki gua vertikal. Gelap dan pengap, itulah suasana di dalam gua tersebut. Sungguh seperti dunia kedua, kelelawar yang keluar dari dalam gua serta cahaya yang datang dari atas seperti yang acap kali saya lihat di Televisi. Terlalu asyik menikmati keindahan gua, tak terasa gelap telah datang. Bulan pun menampakkan dirinya seakan menyuruh kami untuk kembali ke basecamp.

Kami pun kembali ke basecamp lalu istirahat karena besok adalah ujian terakhir dari proses KDKL ini.

Matahari tanpa malu datang menggantikan sang bulan dan kami pun terbangun seakan ada panggilan dari hati untuk bangun karena akan melakukan test akhir. Tidak seperti biasanya yang mengharuskan panitia memaksa kami bangun, hehehe

Siap tidak siap saya dan peserta lain akan melakukan ujian, mulai dari ujian lisan, mempraktikkan vertical rescue, membuat simpul dengan mata tertutup, memasang alat SRT (Single Rope Technic) dengan mata tertutup, sampai melewati lintasan dengan mata tertutup dan semua tahapan masing - masing diberi waktu.

Saya pun mengawali ujian dengan ujian lisan, dengan yakin saya menjawab pertanyaan yang diberikan oleh instruktur dan itu berjalan dengan baik. Lalu saya lanjutkan dengan membuat simpul dengan mata tertutup, beberapa simpul  berhasil saya buat dengan rapi dan ada pula simpul yang memang berhasil saya buat tetapi tidak rapi. Itu menjadi pertanyaan pada diri saya sendiri. Kenapa saya sangat sulit untuk rapi?

Ujian pun saya lanjutkan dengan memasang alat SRT dibadan dengan mata tertutup. Ini pun berhasil saya lakukan tetapi melewati waktu yang telah ditentukan. Lalu saya melanjutkan dengan melewati 3 lintasan dengan mata tertutup.

Hanya observasi dan mengingat - ingat yang menjadi persiapan saya untuk mulai melewati 3 lintasan yang sudah ditentukan oleh panitia penguji. Setelah melewati lintasan untuk naik, saya ingin mengganti alat naik dengan alat turun tapi itu sangat sulit ditambah lagi dengan mata tertutup. Sekitar 18 menit saya tergantung diatas sampai akhirnya turun lagi kebawah.

Lintasan kedua pun sama halnya dengan lintasan pertama tetapi lebih cepat sedikit dan masih melewati waktu yang telah ditentukan. Lintasan ketiga mengalami kemajuan waktu sedikit lebih cepat . Beruntunglah ada kemajuan walaupun masih melewati waktu yang ditentukan.

Dan yang terakhir yaitu vertical rescue. Saya mencari teman yang berat badan tidak jauh berbeda dengan saya supaya bila diangkat tidak terlalu berat. Alhasil semua ujian pun sudah selesai dilaksanakan dan hasilnya dipublikasikan keesokan harinya.

Menjelang maghrib kami kembali ke sekretariat Gamapala untuk beristirahat.

Keesokan harinya hasil ujian pun ditempel di dinding. Ternyata ada 5 peserta yang tidak lulus akan tetapi masih bisa mengikuti ujian ulang ditempat asalnya. Dengan rasa sedikit takut saya melihat hasil, beruntunglah saya hari itu karena saya lulus ujian dan mendapat sertifikat kegiatan sebagai tanda kelulusan.

Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, karena tidak sia - sia perjuangan mulai dari menghampiri satpam yang tengah berjaga diwaktu subuh, menghindari calo yang tidak terhitung jumlahnya sampai tergantung di atas tali dalam waktu yang lama. Hehehe

Siang harinya entah kenapa saya tiba-tiba demam dan saat itu pula teman-teman Gamapala mengajak untuk rafting disungai. Sangat menyesal rasanya karena pengalaman rafting pertama saya sirna begitu saja, saat itu saya hanya bisa memaki dalam hati.

Keesokan harinya saya berangkat menuju Bandung untuk bertemu Ale (saudara satu angkatan saya di Mapala Cadas.Com) yang baru saja mengikuti kegiatan Pelatihan Panjat Tebing. Setelah berpamitan, saya diantar oleh salah satu anggota Gamapala ke terminal.

Sekitar 4 jam perjalanan dari Ciamis menuju Bandung dan saya hanya sendiri. Dalam perjalanan ini banyak pengamen yang silih berganti masuk ke dalam bus. Awalnya saya kasihan tapi lama kelamaan saya berfikir karena sudah terlalu banyak yang dikasihani. “tidak ada pekerjaan lain atau memang malas” ungkap saya dalam hati.

Akhirnya saya sampai di terminal Caheum, Bandung. Mengingat waktu di Jakarta, saya was - was ketika turun dari bus. Takut “dikeroyok” calo lagi. hehehe. Beruntunglah tidak ada orang yang sama seperti di Ibu kota. Saya menghubungi Ale dan menanyakan angkutan apa yang harus ditumpangi untuk menuju tempat dia saat itu.

Melanjutkan kembali perjalanan dengan angkot sekitar 25 menit, akhirnya saya sampai di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dengan senyum, lelaki berambut keriting itu menghampiri dan menyalami saya. “Akhirnya ketemu juga kita ya pas” ungkap Ale sambil memperhatikan saya. Kami pun beranjak menuju sekretariat Jantera (Mapala Jurusan Geografi) UPI.

Selama 4 hari kami beraktifitas di Jantera. Bercanda dan berbagai ilmu itu yang menjadi rutinitas kami setiap hari. Saya belajar navigasi dan pemetaan pada mereka. Ternyata mereka sangat mahir, apalagi pemetaan yang memang bagian dari navigasi menjadi salah satu mata kuliah pada jurusan mereka. “ini kamu belajar cuma 1 hari aja, kalau kami belajar aplikasi ini sampai 1 semester” kata bang Acil yang saat itu mengajari saya.

Dihari ke-4 kami pun beranjak menuju Surabaya untuk kembali ke Balikpapan. Berjam-jam kami di dalam bus dan kembali banyak pengamen yang bergantian masuk ke dalam bus. Ada 1 pengamen yang masih saya ingat kata - katanya pada saat mengawali nyanyiannya. “maklum pak, buk, Bandung kota besar penganggurannya juga besar”. Seolah menggambarkan keluhannya pada saat itu.

Akhirnya kami sampai di terminal Surabaya. Cuaca panas menyambut kedatangan kami. Lalu kami mencari bus menuju pelabuhan Tanjung Perak. Setelah mendapatkan bus, kami naik bus tersebut dan lagi - lagi kami disambut oleh pengamen di dalam bus.

Akhirnya kami sampai di pelabuhan. Keadaan di pelabuhan hampir serupa seperti di Jakarta. Kami diajak naik ojek untuk masuk ke dalam pelabuhan. “jauh dek pelabuhannya, naik ojek aja” kata pria bertopi (tukang ojek). Kami pun cuek dan masuk kedalam pelabuhan. Dan ternyata dekat tidak sejauh apa yang dikatakan tukang ojek tadi.

Kami mencari truk yang bertujuan ke Balikpapan untuk menumpang dengan harapan ongkos lebih murah. Setelah bertanya kepada beberapa supir, akhirnya kami mencapai kesepakatan harga dengan seorang supir. Tapi keberangkatan kapal menuju Balikpapan itu keesokan harinya.

Kami mencari tempat untuk menginap sementara, coba menghubungi salah seorang senior yang kebetulan berdomisili di Surabaya, akan tetapi dia sedang diluar kota. Beruntung saya punya teman KDKL yang sekretariatnya di Surabaya. Akhiranya saya menghubungi teman saya tersebut dan kami pun dijemput dan diajak menuju sekretariat Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bersyukur menjadi mapala, disetiap tempat memiliki saudara.

Keesokan harinya kami berangkat menuju pelabuhan diantar dua orang anggota Himapala Unesa. Setibanya di pelabuhan, kami langsung mencari supir dan truk yang akan kami tumpangi. Beruntunglah sang supir belum masuk ke dalam kapal karena kami lupa meminta kontak supir tersebut.

Sambil menunggu keberangkatan kami banyak bercerita dengan sang supir. Tua dan berpengalaman, banyak nasehat yang diberikan kepada kami. “Jangan sombong kalau sudah jadi orang besar nanti, nggak ada gunanya sombong” salah satu nasehat yang diberikan kepada saya dan Ale.

Sekitar pukul 23.00 Wib kapal berangkat. Perjalanan menuju Balikpapan menempuh waktu 2 hari. Rasa bosan di dalam kapal akhirnya usai setelah kapal berhenti mengarungi lautan. Kami tiba di Kota Minyak dan langsung dijemput oleh 2 saudara di Mapala Cadas.Com, Gajah dan Bang Obor yang sebelumnya sudah kami hubungi.

Pengalaman yang mengasyikan dan ilmu yang baru pasti tidak saya lupakan. Memang satu kesempatan yang didapat secara tidak terencana. Betul kata pepatah kesempatan yang sama tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. 



Oleh : Jonri Panggabean "Lepas"
NTA.CC.09.16.068

Tidak ada komentar:

Posting Komentar