Label

Rabu, 18 Desember 2013

Asal Optimis, Bank Sampah Sangat Realistis



Tidak dimungkiri, minimnya dana untuk berkegiatan merupakan masalah mendasar yang menghampiri setiap organisasi untuk mengembangkan kegiatannya. Namun akan terus seperti itu,  jika dana sudah dijadikan suatu sudut pandang bersama yang justru memicu rasa pesimisme hingga membungkam kreatifitas para pelakunya.
“Jika setiap organisasi sudah terbentuk maka saya yakin akan dapat suport dari pihak lembaga, kampus dan pemerintah setempat. Dan lagi pula dana awal (Bank Sampah) hanya untuk memfasilitasi organisasi saja seperti dalam bentuk buku tabungan member dan timbangan, “  jelas Sultony,  Techincal Support Bank Sampah yang berasal dari Cimanggis.
Seperti kita ketahui, bank sampah adalah lembaga perbankan yang melakukan transaksi seperti bank konvensional lainnya. Namun yang membedakannya adalah bank sampah menabung dalam bentuk sampah yang terpilah dan bersih yang ada nilai ekonominya.

 Berawal perbincangan melalui jejaring sosial, lelaki yang menjadikan akun jejaring  Facebook sebagai media guna memperluas jaringan Bank Sampahnya ini tak sungkan membagi pengalamannya. Mulai bagaimana caranya memperoleh dukungan, mencari langkah yang kontruktif dan solutif bagi lingkungan maupun menjalankan sistem manajerial Bank Sampah sendiri.
Kata dia, dengan seiring berjalannya waktu diyakini akan mendapatkan sendiri modal dari keuntungan menjual sampah kepada pihak pengepul. Dan pasti akan dapat dukungan dana dari Pemerintah atau dinas terkait seperti Dinas kebersihan.
“Asalkan mau mempromosikan organisasi bapak dengan cara mengundang mereka dalam acara peresmiaan nanti dan laporan kegiatan selama kurun waktu 3 bulan. Peluang untuk menjalankan Bank Sampah ini akan terus ada, ujarnya.
Meski begitu menurutnya kalau mendirikan di kampus itu pasti akan sangat aktif apalagi anggota membernya mahasiswa dan mendapat dukungan dari pihak kampus.  Menurutnya sama halnya dengan mendirikan di wilayah (Masyarakat luas), namun juga bias sebagai percontohan bagi kampus lainnya. Yang terpenting, bagaimananya agar bisa merealisasikan bank sampah ini hingga dapat menumbuhkan budaya dan persepsi positif terhadap sampah.
 “Saya akan dukung penuh apabila memang berniat mendirikan bank sampah (skala kampus). Mari kita bersatu dalam suatu wadah yang mempunyai misi yang sama untuk mengurangi sampah yang ada,”ucapnya.
“Sederhananya, untuk menjalankan program bank sampah sendiri sangat mudah, tiga orang (koordinator, tenaga pemilah dan penimbang) pun ini bisa berjalan asal ada kemauan, tekad kuat dan pengetahuan,” tambah Ida, yang menjabat sebagai sekretaris di Bank Sampah tersebut.
Rancangan awal Bank Sampah sendiri meliputi :
Melakukan Kajian guna mendirikan bank sampah. Bisa dilakukan dengan RT 51 Selili Sejahtera Kelurahan Manggar, Bank Sampah Wijaya Kusuma RT 34 Kelurahan Gunungsari Ilir (GSI), RT 34 SDN OO1, SMAN 1 dan elemen masyarakat yang mempunyai bank sampah. Instansi sasaran : Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman (DKPP), Pertamina Unit V (CSR) Dinas Kebersihan Kota (DKK) Balikpapan , Lembaga  STT Migas, melalui kordinator kebersihan. Pembuatan Konsep (Masterplan)  dan sistem bank sampah dalam skala kampus, mendirikan wadah penampungan sampah. Sebagai sasaran : Kampus I dan II STT Migas meliputi warga Kampus (Mahasiswa, Dosen, masyarakat dan lain-lain).
Mengikuti agenda Pelatihan Bank Sampah seperti tenaga pemilah dan penimbang.
 6 Standarisasi Bank Sampah : 
1. Pemilahan Sampah sesuai jenis an organik (sampah botol, kertas putih, kardus, koran, dll)
2. Memiliki sarana wadah dan tempat pengumpulan sampah kering terpilah.
3. Bentuk pengurus bank sampah.
4. Kesepakatan jadwal penjualan
5. Memiliki buku administrasi
6. Memiliki relasi dengan pengepul pengambilan jadwal rutin
Sistem bank sampah
1. Sosialisasi awal masyarakat dan kampus.
2. Pelatihan teknis (Mengundang pemateri bank sampah)  
3. Memulai Menjalankan sistem bank sampah
4. Pendampingan wilayah (Pengawasan)
5. Monitoring dan evaluasi. (1bulan).
Sedikit mengutip beberapa pernyataan dari pakar Bank Sampah sendiri bahwa “Membangun Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan: From Trash To Cash, Prinsip dasar pengelolaan sampah yang ramah lingkungan adalah harus diawali oleh perubahan cara kita memandang dan memperlakukan sampah. Sudah saatnya kita memandang sampah punya nilai guna dan manfaat sehingga tidak layak dibuang percuma. Pelaksanaan Bank Sampah dan Gerakan 3R adalah langkah nyata kita membumikan perubahan paradigm pengelolaan sampah. Pengembangan Bank Sampah harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai memilah, mendaur ulang dan memanfaatkan sampah guna membangun lingkungan yang lebih baik sekaligus membangun ekonomi kerakyatan,”



http://jdih.menlh.go.id/pdf/ind/IND-PUU-7-2012-Permen%20LH%2013%20th%202012%20bank%20sampah.pdf -http://www.youtube.com/watch?v=GXexfUW7gvQ









Tidak ada komentar:

Posting Komentar