Label

Senin, 16 Agustus 2010

Catatan lama sang Konseptor


Kegemaran menjelajahi rimba, mendaki gunung, menelusuri sungai, mengamati kedalaman goa, memanjati tebing terjal. Saat ini makin banyak digemari, terutama oleh kalangan muda melalui wadah yang dibentuk baik secara formal maupun informal sehingga memungkinkan penyaluran akan lebih kuat. Berbagai kemudahan baik perijinan, perlengkapan perkumpulan, pelatihan dan sebagainya di kenal di lingkungan masyarakat umum. Semua kegiatan itu, selain memberi kepuasan atau kesenangan kepada para pelakunya, juga mengundang resiko yang tidak kecil. Bahkan mungkin saja merenggut nyawa pelakunya. Kemudahan dalam meningkatkan minat kearah kegiatan ini, tentunya merupakan potensi yang harus diatur, diarahkan dan dikelola secara profesional agar risiko yang tidak kecil ini, dapat dihilangkan atau ditekan sekecil mungkin.


Dalam sebuah perubahan zaman senantiasa melahirkan 2 (dua) kemungkinan tipe manusia. Pertama, mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti perubahan zaman. Kedua, mereka yang mampu masuk kepusat lingkaran perubahan zaman. Kelompok pertama, dihuni oleh manusia yang selalu tampil dengan kementahan nurani, idealisme yang terkoyak dan senantiasa haus akan kebesaran dimata orang lain. Mereka gemar menceritakan kebesaran masa lalu kepada adik-adik mereka. Dengan harapan dapat menanamkan pikiran mereka kedalam pikiran adik-adiknya. Golongan ini, termasuk manusia setengah jadi yang menginginkan kemajuan, sementara jiwa dan sebelah kakinya terpenjara dalam masa lampau, mereka tergilas oleh zaman.
Kelompok kedua merupakan manusia yang mampu mendengar suara nurani, mengerti menempatkan idealisme dan senantiasa gelisah menanti kebesaran dihadapan Tuhannya. Mereka akan membantu adik-adiknya agar tumbuh dengan pikirannya sendiri melalui kisah kebesaran yang mereka miliki. Kelompok ini tidak pernah tersentuh oleh perubahan zaman, karena zaman berada dalam kendali mereka.
Dalam dunia kepencinta alaman, di kelompok pertama menyimpan manusia yang menjadikan alam sebagai obyek aktualisasi diri dan keterampilan sebagai tujuan hidup. Bila berorganisasi mereka dengan tekun merawat panji-panji kesenioran atas dasar paham kebesaran. Lalu berbicara tentang seribu gunung dan sejuta badai untuk menutupi ketidaktahuan. Bila kegunung, mereka berusaha meninggalkan kesan, lalu kembali dengan ketidakmampuan membedakan kebebasan dan liar. Mereka adalah pencinta alam yang tidak pernah memperjuangkan cita – cita pencinta alam. Sedangkan kelompok kedua, berdiam manusia yang memiliki kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari alam dan seluruh keterampilan hanyalah alat untuk mencapai tujuan hidup. Dalam organisasi, kesenioran tidak lebih dari badut-badut kecil yang menggelikan, mereka tidak perlu berbicara tentang sebuah gunung, tebing dan badai, karena itulah mereka. Tipikal manusia kelompok ini sangat mengerti arti pendidikan dan mampu membedakan antara manusia dan hewan. Berfikir, melihat dan berperilaku dan mereka dapat merasakan, mereka adalah pencinta alam yang tidak pernah kelelahan dalam memperjuangkan cita-cita pencinta alam.

created by Oboy.
editing by Senyap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar