Sebenarnya, demonstrasi bukanlah gaya saya. Selama empat tahun berstatus sebagai mahasiswa, baru sekali saya ikut aksi yaitu aksi kamisan. Itupun hadir karena ditunjuk sebagai salah satu panitia. Kemudian untuk kedua kalinya, tanpa paksaan melainkan sebuah pernyataan sikap, dengan kesadaran penuh bahwa akan ada kemungkinan aksi ini ricuh saya berangkat menuju aksi kamisan kedua saya yang digabung dengan Aliansi Kaltim Bersatu 26 September 2018 di gedung DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda.
Selasa, 01 Oktober 2019
Kamis, 28 Maret 2019
Antara Kita, Bara dan Lara
Belakangan ini, ada banyak bencana
yang datang menghampiri Indonesia. Dari hal-hal yang tidak bisa kita duga
seperti tsunami dan gempa. Serta hal-hal yang seharusnya dapat kita cegah
seperti banjir dan longsor.
Banjir tak bosan mengisi tajuk
berita, mereka yang menjadi korban meninggalkan
lara untuk keluarga. Ditambah pula pengerukan batu bara yang
semakin banyak meninggalkan kolam dan menjadi biang petaka.
Rabu, 31 Oktober 2018
Titipan Ayah
Empu, dengan nama asli Nathania Rahmawati Sutrisno. Mahasiswa baru di kampus merah. Seorang gadis berdarah Jawa yang besar di Sangatta. Sekilas tidak ada yang menarik. Tapi kalau mendengar kisahnya selama PDCA mungkin akan menjadi sedikit menarik.
Rabu, 26 September 2018
Menuju PDCA 13
Masih terekam jelas siang itu, saat saya tiba di sekretariat. Bang Ben terlihat sibuk didepan kamera untuk mengambil video yang nantinya akan diputar saat PKKMB 2018. ‘Ngomong apa aku mut?’ Tanyanya kepada Bang Kimut sang director hari itu, yang kemudian dibalas singkat oleh Bang Kimut ‘ya terserah abang aja, abang ceritakan gimana dulu Cadas terbentuk’. Setelah beberapa kali take, akhirnya kegiatan syuting tipis-tipis itu berakhir. Walaupun mengaku deg-degan didepan kamera Bang Ben berhasil menceritakan Cadas berdurasi sekitar 11 menit.
Dalam sebelas menit itulah, saya kemudian bernostalgia. Bang Ben seolah-olah mendongengkan kembali masa-masa bagaimana Cadas jatuh bangun dalam prosesnya sampai dengan saat ini.
Kamis, 30 Agustus 2018
Menjalin Silaturahmi, Meningkatkan Kepedulian Sosial
![]() |
| Foto Bersama peserta lomba dan arga sekitar |
Salam Sapa untuk semua..
Pengabdian
sejatinya tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa sebagai implementasi dari salah
satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengabdian juga bertujuan untuk menyadarkan
bahwa status mahasiswa pada dasarnya
bukan sekadar belajar di kampus lalu pulang. Melainkan sebagai agent of change
yang memiliki
pemikiran-pemikiran luar biasa untuk mengubah lingkungan
sekitarnya.
Bakti sosial
yang diadakan oleh Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan salah satu contoh
kecilnya ialah yang telah berlangsung pada 6 Juni 2018, di Kelurahan Jenebora, Kecamatan
Penajam, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Kegiatan ini
menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan masyarakat. Menjadi ajang
silaturahmi dan meningkatkan kepedulian pada lingkungan sekitar.
Menyesuaikan
dengan bulan suci Ramadan, panitia kegiatan yang diketuai Yolanda Thalia Rorongpandey,
mengadakan perlombaan azan dan tadarus di Masjid Darusalam. Kegiatan yang
berlangsung satu hari ini disambut baik oleh masyarakat sekitar. Sebanyak 24
anak-anak ambil bagian. Peserta tadarus terdapat 13 orang dan lomba azan 11
orang. Mereka berasal dari TPA Darusalam dan TPA Al-Amin. Meski dikemas
secara sederhana, peserta tampak semangat mengikuti perlombaan. Lantunan ayat
suci Alquran mengumandang dengan nada merdu.
Kegiatan ini
merupakan rangkaian kegiatan Revitalisasi Kawasan Pesisir dengan Pengolahan
Sampah Mandiri. Dihadiri oleh perwakilan STT Migas Balikpapan, BEM STT Migas
Balikpapan, serta masyarakat Jenebora. Bertujuan untuk
memberikan semangat dalam menjalankan ibadah puasa, khususnya anak-anak
Jenebora. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat menjaga tali silaturahmi
antara sesama masayarakat Jenebora dengan mahasiswa.
Salam Lestari!!!
Sapril
NTA.CC.10.16.070
![]() |
| Pemenang Lomba Adzan dan Tadarus |
Minggu, 15 Oktober 2017
(Info terbaru Status Gunung Agung) Tremor Gunung Agung Belum Jadi Tanda Terjadinya Erupsi
Klungkung- Gempa tremor nonharmonik mulai terjadi dari aktivitas Gunung Agung Sejak Kamis (12/10). Total sudah ada 7 kali tremor terekam. Apala Implikasinya hingga hari ini?.
"Tremor non harmonik yang terekam kemarin adalah rentetasn gempa vulkanik. jadi gempa berulang-ulang seperti itu." kata kepala subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBGD Devy kamil Syahnama di Pos Pengamatan Gunung Agung Karangasem, Bali, Sabtu (14/10/2017).
Devy menjelaskan yang terekam masih berdurasi pendek. Tremor tersebut belum menandakann aktivitas Gunung Agung mencapai klimaks.
"ini belum tremor yang menandakan Gunung Agung akan erupsi beberapa jam. Tremor ini memang konsekuensi untuk gunung api yang statusnya level 4 atau awas," ujar Devy.
Tremor ini juga diikuti dengan bertambahnya asap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Agung. PVMGD berharap intensitas keluaran asap solfatara itu meningkat sehingga mengurangi tekanan gas didalam gunung agus.
"Kalau asap putih mengepul tebal seperti itu sebenarnya baik dan bagus. sehingga tekanan diperut gunung terus habis. Bahaya justru jika ada manifestasi fluida ke permukaan berupa asap tadi,"ucap devy.
Asap solfatara yang erus keluar juga mampu mengurangi jumlah kegempaan vulkanik. Namun hingga hari ini rata-rata kegempaan dari aktivitas Gunung Agung Sebanyak 700-800 kali perhari.
"Kalau sekarang, gempa vulkanik masih sangat tinggi, bahkan gempa mencapai 907 kali perhari dari pada saat pertama kali kita naikkan gunung agung ke status awas, yang rata-rata saat itu gempa vulkanik terjadi 360 kali perharinya,"ungkap devy.
Sumber: www.Detik.com
untuk video terupdetnya cek video dibawah ini...
"Tremor non harmonik yang terekam kemarin adalah rentetasn gempa vulkanik. jadi gempa berulang-ulang seperti itu." kata kepala subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBGD Devy kamil Syahnama di Pos Pengamatan Gunung Agung Karangasem, Bali, Sabtu (14/10/2017).
Devy menjelaskan yang terekam masih berdurasi pendek. Tremor tersebut belum menandakann aktivitas Gunung Agung mencapai klimaks.
"ini belum tremor yang menandakan Gunung Agung akan erupsi beberapa jam. Tremor ini memang konsekuensi untuk gunung api yang statusnya level 4 atau awas," ujar Devy.
Tremor ini juga diikuti dengan bertambahnya asap solfatara yang keluar dari kawah Gunung Agung. PVMGD berharap intensitas keluaran asap solfatara itu meningkat sehingga mengurangi tekanan gas didalam gunung agus.
"Kalau asap putih mengepul tebal seperti itu sebenarnya baik dan bagus. sehingga tekanan diperut gunung terus habis. Bahaya justru jika ada manifestasi fluida ke permukaan berupa asap tadi,"ucap devy.
Asap solfatara yang erus keluar juga mampu mengurangi jumlah kegempaan vulkanik. Namun hingga hari ini rata-rata kegempaan dari aktivitas Gunung Agung Sebanyak 700-800 kali perhari.
"Kalau sekarang, gempa vulkanik masih sangat tinggi, bahkan gempa mencapai 907 kali perhari dari pada saat pertama kali kita naikkan gunung agung ke status awas, yang rata-rata saat itu gempa vulkanik terjadi 360 kali perharinya,"ungkap devy.
Sumber: www.Detik.com
untuk video terupdetnya cek video dibawah ini...
Senin, 03 Juli 2017
Genap 10 Tahun, Mapala Cadas.Com Launching Buku Organisasi, Cinta, dan Hobi
Launching Buku Organisasi Cinta, dan Hobi digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Carmine Delta Adventurers (Cadas.Com) Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan, Sabtu (28/10).
Launching kali kedua berlangsung sederhana di halaman Sekretariat Mapala Cadas.Com, Jalan Soekarno-Hatta KM.08, Karang Joang, Balikpapan Utara.
Sebelumnya, Launching Buku pertama dilakukan saat bertepatan dengan Milad Mapala Cadas.Com ke-10 di Auditorium STT Migas Balikpapan, Maret 2017 silam.
Tujuan dilakukannya Launching Buku ini untuk mengenalkan karya tulis. Ke depan, buku ini juga dapat menjadi referensi bagi para penerus menjalankan roda organisasi.
Panitia Launching Buku menyiapkan acara tersebut selama sepekan lamanya. Dimulai dari pembentukan panitia, pembuatan surat peminjaman dan undangan, serta mendekorasi tempat acara tersebut.
“Tetapi yang ikut serta di pra kegiatan ini tidak hanya panitia, tetapi senior – senior dari Cadas ikut membantu seperti dana, tenaga dan lain lain,” ujar Ketua Panitia Launching Buku, Febbyan Sudirman.
Jalannya acara berlangsung santai, mengingat desain acara di outdoor membuat tamu undangan lebih bertatap langsung dengan alam.
Tamu undangan yang hadir, kata Febbyan, kurang lebih 63 orang. Perwakilan dari berbagai lembaga pemerhati lingkungan kampus dan umum.
Seperti Komunitas Pencinta Alam Spezies, Forum Peduli Teluk Balikpapan, Balikpapan Art Foundation, Mapala Himpa Politeknik Balikpapan, Mapala Greempanks, Amazon, dari Politeknik Samarinda, Mapala Gempa IAIN Samarinda,
Mapala Ampal LP3I Balikpapan, serta perwakilan organ intra kampus, seperti Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Mahasiwa Teknik Pengolahan Migas, dan Himpunan Mahasiwa Teknik Instrumentasi dan Elektronika Migas.
Pada Launching Buku kedua ini, undangan mengikuti agenda acara yang sudah diatur oleh panitia, seperti membaca Kode Etik Pencinta Alam Indonesia, dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya.
Tamu undangan tampak khidmat berdiri dan membaca Kode Etik Pencinta Alam Indonesia serta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang juga diiringi oleh para anggota Cadas.
Setelah itu sambutan dari ketua Panitia Launching Buku dan Pengganti ketua Umum Cadas sementara, karena pada hari itu ketua Umum berhalangan hadir.
Tamu undangan tampak antusias bertanya tentang proses pembuatan buku, saat Tim Buku maju untuk menjelaskan.
“Ingatan bisa hilang, tulisan akan abadi. Ingatan yang menjadi problem utama selama penulisan buku ini,” ujar Ketua Tim Buku, Edwin Agustyan menjelaskan.
Buku Organisasi, Cinta dan Hobi yang telah dibuat, bertuliskan tentang perjalanan Mapala Cadas.com selama 10 tahun. Seperti, PDCA I sampai PDCA X dan kegiatan – kegiatan yang diikuti oleh Mapala Cadas.Com.
Ia mengatakan, buka Organisasi, Cinta, dan Hobi ini merupakan hadiah kecil bagi ulang tahun ke-10 Cadas yang jatuh pada 3 Maret 2017.
Disusun oleh delapan orang anggota Mapala Cadas.Com dari lintas angkatan. Benny dan Edwin mewakili anggota yang akif pada tahun-tahun pertama Cadas berdiri, 2007 lalu.
Surya dan Fariz merupakan bagian dari era ketika Cadas mulai keluar dari krisis anggota. Sadliansyah, Jossy, serta dua bungsu, Febbyan dan Yolanda merupakan anggota yang aktif saat ini.
Selain Tim Buku, materi seputar lingkungan hidup juga dibawakan oleh Koordinator FPTB, Mapaselle dan Dosen STT Migas Balikpapan, M Luthfi. Materi yang dibawakan oleh Dosen Luthfi, yakni tentang Lingkungan Hidup.
Tetapi di awal pembahasan, alumnus Universitas Hasanudin Makassar ini turut membahas pentingnya memaknai Kode Etik Pencinta Alam Indonesia dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Sedangkan, betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup khususnya di sekitar Teluk Balipapan yang merupakan daerah penyangga, dibawakan oleh Mapaselle.
“Karena beberapa flora dan fauna langka hampir punah, maka dari itu butuh kesadaran diri lebih masyarakat Balikpapan untuk menjaga kelestarian lingkungan di sana,” ujarnya.
Setelah penyampaian materi, ada sesi tanya jawab. Tentunya mengarah tentang materi yang telah dijelaskan. Tamu undangan pun bertanya, seperti bagaimana menjelaskan Kode Etik Pencinta Alam Indonesia kepada Pencinta Alam dari luar Indonesia dan lain lain. Dan tentunya pertanyaan itu dijawab dengan lugas dan jelas oleh pemateri.
Setelah sesi tanya jawab ada acara akustikan. Di situ pula tanda bahwa acara Launching Buku yang kedua berakhir. Dan sambil menutup acara para tamu undangan dan anggota Mapala Cadas.Com sibuk menyantap makanan yang telah disediakan oleh panitia.
Seusai itu, sebagian tamu ada yang tak langsung pulang. Mereka memilih memanfaatkan momen untuk berdiskusi dengan anggota Cadas. Ada juga yang sibuk mengabadikan moment dengan mengambil gambar di backdroop yang telah dibuat oleh panitia.
Untuk diketahui, Cadas sendiri adalah organisasi pencinta alam yang berdiri di lingkup STT MIGAS Balikpapan. Sebagai wadah mahasiswa yang mempunyai jiwa petualang dan tantangannya dan juga sebagai penyaluran hobi mahasiswa.
Cadas berdiri pada tanggal 3 maret 2007 yang diketuai oleh Benny Oktaryanto. Organisasi ini berdiri karena kesadaran mahasiswa terhadap alam. Karena alam adalah tempat kita, jadi manusia dan alam tak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan unsur yang saling menopang kelangsungan hidup. (Deni Prabowo/ LIDI)
Launching kali kedua berlangsung sederhana di halaman Sekretariat Mapala Cadas.Com, Jalan Soekarno-Hatta KM.08, Karang Joang, Balikpapan Utara.
Sebelumnya, Launching Buku pertama dilakukan saat bertepatan dengan Milad Mapala Cadas.Com ke-10 di Auditorium STT Migas Balikpapan, Maret 2017 silam.
Tujuan dilakukannya Launching Buku ini untuk mengenalkan karya tulis. Ke depan, buku ini juga dapat menjadi referensi bagi para penerus menjalankan roda organisasi.
Panitia Launching Buku menyiapkan acara tersebut selama sepekan lamanya. Dimulai dari pembentukan panitia, pembuatan surat peminjaman dan undangan, serta mendekorasi tempat acara tersebut.
“Tetapi yang ikut serta di pra kegiatan ini tidak hanya panitia, tetapi senior – senior dari Cadas ikut membantu seperti dana, tenaga dan lain lain,” ujar Ketua Panitia Launching Buku, Febbyan Sudirman.
Jalannya acara berlangsung santai, mengingat desain acara di outdoor membuat tamu undangan lebih bertatap langsung dengan alam.
Tamu undangan yang hadir, kata Febbyan, kurang lebih 63 orang. Perwakilan dari berbagai lembaga pemerhati lingkungan kampus dan umum.
Seperti Komunitas Pencinta Alam Spezies, Forum Peduli Teluk Balikpapan, Balikpapan Art Foundation, Mapala Himpa Politeknik Balikpapan, Mapala Greempanks, Amazon, dari Politeknik Samarinda, Mapala Gempa IAIN Samarinda,
Mapala Ampal LP3I Balikpapan, serta perwakilan organ intra kampus, seperti Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Mahasiwa Teknik Pengolahan Migas, dan Himpunan Mahasiwa Teknik Instrumentasi dan Elektronika Migas.
Pada Launching Buku kedua ini, undangan mengikuti agenda acara yang sudah diatur oleh panitia, seperti membaca Kode Etik Pencinta Alam Indonesia, dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya.
Tamu undangan tampak khidmat berdiri dan membaca Kode Etik Pencinta Alam Indonesia serta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang juga diiringi oleh para anggota Cadas.
Setelah itu sambutan dari ketua Panitia Launching Buku dan Pengganti ketua Umum Cadas sementara, karena pada hari itu ketua Umum berhalangan hadir.
Tamu undangan tampak antusias bertanya tentang proses pembuatan buku, saat Tim Buku maju untuk menjelaskan.
“Ingatan bisa hilang, tulisan akan abadi. Ingatan yang menjadi problem utama selama penulisan buku ini,” ujar Ketua Tim Buku, Edwin Agustyan menjelaskan.
Buku Organisasi, Cinta dan Hobi yang telah dibuat, bertuliskan tentang perjalanan Mapala Cadas.com selama 10 tahun. Seperti, PDCA I sampai PDCA X dan kegiatan – kegiatan yang diikuti oleh Mapala Cadas.Com.
Ia mengatakan, buka Organisasi, Cinta, dan Hobi ini merupakan hadiah kecil bagi ulang tahun ke-10 Cadas yang jatuh pada 3 Maret 2017.
Disusun oleh delapan orang anggota Mapala Cadas.Com dari lintas angkatan. Benny dan Edwin mewakili anggota yang akif pada tahun-tahun pertama Cadas berdiri, 2007 lalu.
Surya dan Fariz merupakan bagian dari era ketika Cadas mulai keluar dari krisis anggota. Sadliansyah, Jossy, serta dua bungsu, Febbyan dan Yolanda merupakan anggota yang aktif saat ini.
Selain Tim Buku, materi seputar lingkungan hidup juga dibawakan oleh Koordinator FPTB, Mapaselle dan Dosen STT Migas Balikpapan, M Luthfi. Materi yang dibawakan oleh Dosen Luthfi, yakni tentang Lingkungan Hidup.
Tetapi di awal pembahasan, alumnus Universitas Hasanudin Makassar ini turut membahas pentingnya memaknai Kode Etik Pencinta Alam Indonesia dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
Sedangkan, betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup khususnya di sekitar Teluk Balipapan yang merupakan daerah penyangga, dibawakan oleh Mapaselle.
“Karena beberapa flora dan fauna langka hampir punah, maka dari itu butuh kesadaran diri lebih masyarakat Balikpapan untuk menjaga kelestarian lingkungan di sana,” ujarnya.
Setelah penyampaian materi, ada sesi tanya jawab. Tentunya mengarah tentang materi yang telah dijelaskan. Tamu undangan pun bertanya, seperti bagaimana menjelaskan Kode Etik Pencinta Alam Indonesia kepada Pencinta Alam dari luar Indonesia dan lain lain. Dan tentunya pertanyaan itu dijawab dengan lugas dan jelas oleh pemateri.
Setelah sesi tanya jawab ada acara akustikan. Di situ pula tanda bahwa acara Launching Buku yang kedua berakhir. Dan sambil menutup acara para tamu undangan dan anggota Mapala Cadas.Com sibuk menyantap makanan yang telah disediakan oleh panitia.
Seusai itu, sebagian tamu ada yang tak langsung pulang. Mereka memilih memanfaatkan momen untuk berdiskusi dengan anggota Cadas. Ada juga yang sibuk mengabadikan moment dengan mengambil gambar di backdroop yang telah dibuat oleh panitia.
Untuk diketahui, Cadas sendiri adalah organisasi pencinta alam yang berdiri di lingkup STT MIGAS Balikpapan. Sebagai wadah mahasiswa yang mempunyai jiwa petualang dan tantangannya dan juga sebagai penyaluran hobi mahasiswa.
Cadas berdiri pada tanggal 3 maret 2007 yang diketuai oleh Benny Oktaryanto. Organisasi ini berdiri karena kesadaran mahasiswa terhadap alam. Karena alam adalah tempat kita, jadi manusia dan alam tak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan unsur yang saling menopang kelangsungan hidup. (Deni Prabowo/ LIDI)
Rabu, 23 November 2016
Untuk yang Dirindukan
KAMI tidak
butuh sate, kami butuh kamu... Seloroh itu meluncur saat kami bertandang ke
rumah salah satu anggota Cadas, Sabtu (19/11) malam lalu. Sang empunya rumah
sudah lama tidak datang ke sekretariat tanpa sebab yang jelas.
Awal mula
bergabung dia sangat aktif. Saya masih menjumpainya Idulfitri lalu. Dia sendiri
yang menerima perlengkapan sekretariat yang saya pinjam ketika backpacker di
empat kota di Rusia. Ehem.
Jumat, 18 November 2016
Open Recruitment Mapala Cadas.Com
Salam Lestari...
Bagi kawan-kawan yang menggemari outdoor activity dan pelestarian lingkungan, Mahasiswa Pencinta Alam Carmine Delta Adventurers Community (Mapala Cadas.Com) tahun ini membuka kesempatan bagi mahasiswa/mahasiswi STT Migas
Balikpapan untuk bergabung menjadi anggota baru yang ke XI.
Banyak hal-hal positif yang akan kalian lakukan untuk menjadi Mahasiswa yang bukan hanya sekedarnya saja. Sebagai insan manusia yang mempunyai andil dalam upaya pelestarian alam, maka diperlukan karakter manusia yang tabah, teguh dan tangguh dalam menghadapi dunia yang nyata.
Mari berproses bersama Mapala Cadas.Com
Persyaratan :
1. Mahasiswa aktif STT Migas Balikpapan.
2. S1 Maksimal Semester 3
3. D3 Maksimal Semester 1.
4. Sehat Jasmani dan Rohani.
5. Mampu Mengikuti Seluruh Rangkaian Kegiatan PDCA.
- formulir pendaftaran
Bagi kawan-kawan yang menggemari outdoor activity dan pelestarian lingkungan, Mahasiswa Pencinta Alam Carmine Delta Adventurers Community (Mapala Cadas.Com) tahun ini membuka kesempatan bagi mahasiswa/mahasiswi STT Migas
Balikpapan untuk bergabung menjadi anggota baru yang ke XI.
Banyak hal-hal positif yang akan kalian lakukan untuk menjadi Mahasiswa yang bukan hanya sekedarnya saja. Sebagai insan manusia yang mempunyai andil dalam upaya pelestarian alam, maka diperlukan karakter manusia yang tabah, teguh dan tangguh dalam menghadapi dunia yang nyata.
Mari berproses bersama Mapala Cadas.Com
Persyaratan :
1. Mahasiswa aktif STT Migas Balikpapan.
2. S1 Maksimal Semester 3
3. D3 Maksimal Semester 1.
4. Sehat Jasmani dan Rohani.
5. Mampu Mengikuti Seluruh Rangkaian Kegiatan PDCA.
- formulir pendaftaran
Minggu, 21 Agustus 2016
Mari Merapat
Masih
melekat dalam ingatan saya tepat setahun yang lalu, ketika mengenakan seragam
peserta OPMB (Orientasi Pengenalan Mahasiswa Baru) di Kampus Merah STT Migas
Balikpapan. Perasaan senang bercampur takut. Senang karena akan segera menjadi
Mahasiswa, dan takut karena pada saat itu banyak diberitakan kekerasan pada
saat pelaksanaan orientasi kampus yang menelan korban jiwa.
Waktu
berlalu, hari demi hari saya lalui sebagai Mahasiswa. Tidak ada yang spesial,
rutinitas saya hanya mengikuti perkuliahan dan berkumpul dengan teman. Akhirnya
saya putuskan untuk mendaftar di salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) untuk
mengisi hari-hari saya. Pilihan jatuh pada UKM Mapala Cadas.Com.
Selama
enam bulan mengabdi sebagai Anggota Muda membuat hari-hari saya menjadi lebih
hidup. Ternyata menjadi seorang Mapala tidak mudah, segala macam cara dilakukan
senior dalam mendidik kami. Tujuannya tidak lain agar kami siap dan mampu
meneruskan perjalanan organisasi.
Dari
hanya mengikuti kegiatan, sampai kami bisa membuat kegiatan sendiri. Lelah? pasti.
Bahkan tidak jarang situasi yang terjadi mengharuskan kami mengeluarkan air
mata.
Saya
sadar bahwa menjadi seorang senior itu bukan perkara mudah. Memiliki tanggung
jawab lebih tentunya. Tapi saya yakin apa yang telah diajarkan kepada kami
(Anggota Muda) bukan hal yang sia-sia.
Tapi
sekarang inilah saya, seorang Mahasiswa yang telah bermetamorfosa. Yang oleh
waktu dipaksa untuk bisa dan siap. Seorang Anggota Muda yang sebentar lagi akan
menjadi abang (senior). Seorang manusia yang sampai sekarang masih dididik dan
nantinya akan mendidik. Seorang lelaki yang tidak lagi malu untuk meneteskan
air mata dalam keharuan.
Semoga
apa yang akan kami lakukan nantinya dapat mengharumkan nama organisasi ini. Membawa
organisasi ini mencapai tujuan yang telah dicita-citakan.
Selamat
datang kepada Mahasiswa/i baru STT Migas Balikpapan tahun ajaran 2016-2017. Mari
bergabung dalam keluarga besar Mapala Cadas.Com. Jangan ragu, mari bersama-sama
kita menjadi Mahasiswa yang sebenar-benarnya Mahasiswa.
Astuti
Anggota Muda
Selasa, 14 Juni 2016
KDKL Pengalaman Pertama di luar Kalimantan
Gua.
Surga bawah tanah yang dibentuk oleh sang Pencipta dengan bermacam
keindahannya.
Rasa
penat masih tersisa ketika saya sampai di Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)
Carmine Delta Adventurer’s Community (Cadas.Com) Setelah 1 minggu mendampingi
kegiatan Bakti Sosial Anggota Muda. Gelap yang tak dapat
dibendung dan hawa yang dingin masih menyelimuti tempat yang sudah saya
anggap sebagai rumah itu.
Terkejut
rasanya ketika mendapat kabar dari salah seorang senior yang
kerap saya sapa “Bang Cicak” untuk bersiap-siap mengikuti kegiatan
Kursus Dasar Kursus Lajutan (KDKL) Penelusuran Gua dan Lingkungan Sekitarnya di Ciamis, Jawa Barat. Penunjukan
saya sebagai delegasi untuk kegiatan tersebut terbilang mendadak. Ternyata calon
peserta yang akan didelegasikan tidak mendapat izin dari orangtuanya.
Rasa
senang bercampur bingung merasuki pikiran saya. Bagaimana
tidak, ini adalah kali pertama saya berangkat mengikuti kegiatan sendirian. Di tempat yang belum pernah
saya singgahi serta teman - teman Mapala dari luar pulau Kalimantan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tapi ilmu baru yang akan saya dapatkan pada pelatihan
nanti menjadi motivasi saya untuk berangkat mengikuti kegiatan ini.
Senin, 23 Mei 2016
Generasi Penerus Bangsa Wajib Memiliki Rasa Cinta Tanah Air
BALIKPAPAN - Hari ini (15/5) aku
dan 2 saudaraku Combat
dan Pulan
bergegas menuju Dodikjur Rindam VI MLW tepatnya di daerah Manggar, untuk
mengikuti Penataran Kader Bela Negara Tahun Anggaran 2016 yang diadakan selama
kurang lebih 5 hari. Setibanya disana, dengan
membawa perlengkapan yang sudah disiapkan, kami bertiga langsung
disambut oleh Panitia pelaksana kegiatan untuk melalukan registrasi kembali dengan mengisi
biodata. Setelah
itu kami diberi tas, baju dan topi yang wajib digunakan selama kegiatan
berlangsung. Lalu kami diarahkan untuk
menuju ke aula dan bergabung dengan peserta lain yang sudah berkumpul.
Peserta yang ikut dalam penataran
ini diambil dari 126 siswa SMA/SMK dan 24teman-teman Mahasiswa. Aku, Pulan dan Combat berusaha menyesuaikan
keadaan dan berbaur dengan peserta lainnya. Di dalam aula para
peserta diajarkan yel-yel oleh Pembina. Para peserta begitu
antusias dan bersemangat mengikuti gerakan dan nyayian yang dicontohkan.
Selanjutnya, para peserta diarahkan
menuju lapangan hitam untuk glady bersih upacara pembukaan penataran kader Bela
Negara esok harinya. Sebelum
melakukan glady bersih kami kembali diminta untuk absen. Dan setelah itu kami
di bagi menjadi 2 kompi, 6 pleton dan 3 barak. Aku dan Pulan masuk dalam kompi
B pleton 3 barak “Keikhlasan” dengan jumlah 24 wanita. Sedangkan Combat masuk dalam kompi A
pleton 2.
Selasa, 03 Mei 2016
Jenebora, Suara dari Pesisir
Suara
mesin kelotok mendengung di telinga. Menyusuri Teluk Balikpapan yang mulai dikeliling
perusahaan industri. Sejurus dengan barisan bukit yang tidak lagi hijau.
Dari kejauhan tampak Kelurahan Jenebora. Sejauh mata
memandang, wilayah itu tampak begitu diam dengan segala keterbelakangannya.
Sampah-sampah tergenang di kolong rumah warga. Terapung mengikuti pola ombak. Seolah menggambarkan
ketidakpedulian warga dan pemerintah setempat terhadap daerah mereka.
Membutuhkan
waktu kurang lebih 30 menit dari Pelabuhan
Kampung Baru untuk tiba di sana.
Cuaca yang cerah dan kondisi ombak yang tenang, melancarkan perjalanan saya.
Rabu, 02 Maret 2016
SENYUM PAK LUKMAN
Saya baru
rebahan di kasur empuk waktu postingan di grup WhatsApp Mapala Cadas.Com
muncul. 17 Februari lalu, Tirus, lulusan anyar yang kembali ke fitrahnya
sebagai kuli tinta, meng-upload foto Pak Lukman. Dengan senyum mengembang,
ketua STT-Migas itu berdiri bersender di dinding.
Di kanannya,
Ale duduk dengan ekspresi datar. Di ruangan itu juga ada Lepak. Walau di foto
hanya sebagian kepalanya yang keliatan.
Saya hapal
ruangan tempat foto itu diambil. Pernah beberapa kali ke sana. Bahkan pernah
jadi tempat kencan pertama waktu pacaran sama perempuan tercantik di Cadas.
Yang ini nda usah dideskripsikan. Pasti paham toh siapa yang saya maksud. Apalagi Rahul.
Menua Dengan Jiwa Yang Selalu Muda
Perjalanan menuju usia
yang lebih dewasa, dengan generasi yang baru. Satu pembuktian bahwa diusia yang
terus bertambah organisasi ini tetap konsisten, berjalan menggapai tujuannya
dengan generasi yang terus berganti. Bukan berarti orang-orang terdahulu
(senior) tersingkirkan dalam perjalanan ini. Mereka tetap ada dan akan selalu
ada sebagai pembimbing bagi generasi terbaru. Itulah roda kehidupan, seperti yang
sering diucapkan salah satu senior, Bang Edwin (Gaib) bahwa setiap orang ada masanya, dan setiap masa
ada orangnya.
Rabu, 26 Agustus 2015
Penelusuran Gua di Benuo Taka. Kesan Pertama Tak Selalu Indah.
Kabupaten Penajam Paser Utara (Kab. PPU) – Anggota
Muda Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan melakukan penelusuran kebeberapa gua
yang ada di Kecamatan Waru. Namun sangat disayangkan, kepentingan pemerintah
setempat tidak mengindahkan konsep pelestarian lingkungan.
Pagi itu (24/8) cukup membuat saya kelimpungan.
Kegiatan rutin upgrading materi susur
gua (caving) hampir saya lewatkan. Padahal
materi kali ini sangat istimewa, kunjungan langsung melihat gua beserta
ornamennya, yang sebelumnya hanya bisa berangan dan
melihat gambar dari materi-materi ruangan yang disampaikan. Untungnya anggota
tim lainnya masih setia menunggu saya di Pelabuhan PPU.
Tim penelusur gua yang terdiri dari 9 orang. Dipimpin
langsung oleh Kepala Divisi Caving, Sadliansyah
(cicak), dan seorang diantaranya adalah tamu kami dari University Of Barcelona, Spanyol. Neus biasa kami panggil, cukup
antusias juga mengikuti kegiatan kami ini, setelah satu bulan menjalani program
pertukaran pelajar di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tujuan pertama kami adalah Kantor Kecamatan Waru,
karena Pak Camat menawarkan transportasi menuju lokasi gua. Yang saya ketahui
bahwa lokasi gua cukup jauh dari jalan utama dan harus masuk wilayah perusahaan
perkebunan kelapa
sawit. Tepat pukul
14.00 wita kami bertolak menuju lokasi gua. Setelah istirahat cukup lama sambil
menunggu pemimpin menyelesaikan tanggungjawabnya.
Tiga puluh menit berlalu. Setibanya di mulut gua, ada hal yang cukup mencolok
saya lihat. Bekas kerukan bucket excavator
yang cukup luas meratakan tanah, sampai-sampai mulut gua baru terbentuk akibat
hal tersebut. Hal ini sangat berbeda dari foto-foto dokumentasi penelusuran
sebelumnya, yang masih alami.
Dari penjelasan Pak Camat, penggusuran ini dilakukan
untuk memudahkan akses jalan dan sebagai lahan parkir para pengunjung. Karena
rencananya gua ini akan dijadikan icon tempat
wisata baru di Kecamatan Waru. Sangat disayangkan menurut saya. Karena
pengetahuan yang minim akan pengelolaan lingkungan harus mengorbankan keasrian
alam. Apalagi
proyek penggusuran tersebut didasari oleh agenda kunjungan Bupati PPU ke gua
tersebut dalam waktu dekat ini.
Setelah tercengang beberapa saat dan mendengarkan
cerita Pak Camat. Tim melakukan penelusuran yang diawali dengan briefing oleh Sadliansyah. Gua pertama
yang kami telusuri adalah Gua Bensiang Putri. Pintu Gua Bensiang Putri secara
tidak sengaja muncul akibat pengerukan sisi bukit. Saat dikeruk terlihat sebuah
lubang kecil,
ketika dicek oleh seorang pekerja lubang itu menghembuskan udara dari bagian dalamnya, sehingga diputuskan untuk diperlebar dan menjadi pintu masuk gua. Nama Gua Bensiang Putri berasal dari
kata Bensiang yang diambil dari nama bukit di mana gua itu berada yaitu Bukit
Bensiang, dan Putri berasal dari penemuan ornamen gua yang berbentuk menyerupai
alat kelamin kaum hawa.
Gua Bensiang Putri termasuk dalam kategori gua
kering. Penelusuran
diawali dari mulut gua yang sempit memaksa kami merayap dan antri. Dunia di
bawah dunia, ungkapan yang tepat untuk menggambarkannya. Lorong sempit di mulut
gua berubah layaknya aula tanpa penerangan. Selama penelusuran,
kami dijelaskan mengenai proses pembentukan ornament gua, etika penelusuran gua
dan biota gua. Di
ujung lorong, kami menemukan
longsoran dinding
gua yang diperkirakan
adalah pintu lain dari gua tersebut. Waktu penelusuran pada gua pertama ini
selama 45 menit, dengan panjang lintasan sekitar 500 meter.
Para wisatawan lokal turut meramaikan salah satu spot wisata baru ini. Nampak mimik penasaran
di wajah mereka mengikuti kami menyelisik lorong gua. Beberapa saat
penelusuran, hal yang tak lazim nampak di depan mata. Perbuatan tangan-tangan
tak bertanggungjawab, mencoreng nilai estetika gua dan kelestariannya.
Tepat pukul 16.00 wita kami melanjutkan penelusuran
ke Gua Bensiang Putra, setelah beberapa saat istirahat dan bercengkrama dengan
Pak Camat. Posisi gua ini berada 70 meter di atas Gua Bensiang Putri, sehingga
tim harus menaiki anak tanga sementara yang telah disediakan oleh pemerintah
setempat. Gua bensiang putra tidak jauh beda kodisinya, hanya saja lebih kering
dari gua sebelumnya. Wajar saja, karena mengingat lokasi gua yang
berada di bagian atas bukit ditambah lagi beberapa bulan terkahir PPU tidak diguyur hujan.
Ornamen-ornamen pada kedua gua yang kami temui tidak
jauh beda, diantaranya adalah stalactite,
stalacmite, gorden. Begitu pula dengan hewan-hewannya, jangkrik gua,
laba-laba gua, kelelawar, ular, cacing, cicak, kelabang kaki panjang.
Setelah tiga puluh menit menelusur gua Bensiang
Putra, kami
bergegas kembali ke Kantor Kecamatan Waru. Mengingat waktu sudah senja. Perjalanan
ke Balikpapan memerlukan waktu 120 menit dari Kantor Kecawatan Waru, dan dapat
dipastikan malam hari kami tiba di Sekretariat Mapala Cadas.Com.
Tantangan bagi kami
(red. Mapala Cadas.Com) dan manusia berideologi
sejenis. untuk mensosialisasikan kepada masyarakat sekitar
tentang pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup.
Dhoni Setiawan
“Gajah”
Minggu, 23 Agustus 2015
Bakti lingkungan si Bungsu. Penghijauan Kawasan Pesisir Menjadi Perhatian.
| Foto Bersama selepas penanaman. |
Rangkaian
kegiatan dengan nama Melestarikan Alam dengan Menanam Mangrove yang
dilaksanakan pada Sabtu (22/8) kemarin, juga merupakan salah satu syarat
kenaikan jenjang keanggotaan Mapala Cadas.Com STT Migas Balikpapan. Sesuai
dengan tema kegiatan yaitu Mangrove for a Better Future, bentuk kegiatan
tidak hanya dengan penanaman, namun juga diisi dengan seminar serta komitmen
perawatan hingga bibit mangrove dapat tumbuh mandiri dengan pemantauan rutin
setiap tiga minggu.
Luas
lokasi penanaman sekitar 3000 m2 ini berada di wilayah RT 08. Dari
data Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), kawasan DPML seluas 52 hektare, dihitung dari tepian pantai
sekitar 50-500 meter ke arah daratan dan 15 km sepanjangan pantai Kelurahan
Teritip dengan kelebatan hutan mangrove yang tidak merata.
Sebagai
pemateri Zakaria dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Balikpapan menjelaskan selain
mencegah abrasi, hutan mangrove menjadi habitat yang sangat baik untuk
ikan-ikan dan kepiting.
Laki-laki
yang sekaligus menjabat ketua Pokmaswas DPML
Teritip ini menambahkan, pemeliharaan mangrove harus rutin dilakukan mengingat
pasca awal penanaman adalah masa kritis tumbuhan untuk hidup. Dalam materi
seminarnya Bapak 53 tahun ini juga menjabarkan jenis-jenis mangrove sejati yang
berada di DPML Desa Teritip diantaranya Sonneratia
Alba, Rhizopora Mucronata, Rhizophora Apiculata, Avicennia Marina (bakau).
Kegiatan
yang dihadiri oleh perwakilan warga sekitar dan 5 anggota organisasi kampus STT
Migas Balikpapan serta 53 anggota Mapala sekaltim.
“kegiatan
ini merupakan salah satu wujud nyata kepedulian kami terhadap pelestarian
lingkungan, khususnya wilayah pesisir,” terang Ketua Panitia Kegiatan Iqbal Raditya. Namun, Iqbal menyayangkan ketiadaan perwakilan dari
STT Migas Balikpapan dalam kegiatan tersebut.
Kawasan
hutan mangrove hanya terdapat di RT 06, 07, dan 08. “bekantan banyak di sini
(sekitar lokasi penanaman, Red), setelah banyak penebangan dan ada kebakaran
lahan makanya bekantan pindah ke DAS (Daerah Aliran Sungai) Manggar,” ungkap Kajan
(Ketua RT 08) yang turut menghadiri kegiatan ini. Dia juga berharap seluruh
warga Balikpapan untuk turut melestarikan mangrove.
Daftar Instansi yang Turut Berpartisipasi
|
|
No
|
Nama Lembaga
|
1
|
Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan (HMTP)
|
2
|
Himpunan Mahasiswa Teknik Pengolahan Migas (HMTPM)
|
3
|
Ikatan Ahli Teknik Perminyakan (IATMI) STT Migas Balikpapan
|
4
|
Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Mulawarman
(IMAPA UNMUL)
|
5
|
Mahasiswa Pencinta Flora dan Fauna Fakultas Kehutanan
(MAPLOFA Fahutan) UNMUL
|
6
|
Mapala Planktos Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNMUL
|
7
|
Mapala Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer
(STMIK) WICIDA Samarinda
|
8
|
Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam Institut Agama Islam Negeri
(GEMPA IAIN) Samarinda
|
9
|
Wahana Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Kutai
Kartanegara (WAMAPALA UNIKARTA) Tenggarong
|
10
|
Pencinta Alam Universitas 17 Agustus (PATAGA) Samarinda
|
11
|
Mahasiswa Pencinta Alam Politeknik Pertanian (MAPAPOLITANI)
Samarinda
|
12
|
Ikatan Pencinta Alam Universitas Widya Gama Mahakam
(IPAWAGAMA) Samarinda
|
13
|
Mapala Universitas Balikpapan
|
14
|
Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam Politeknik Negeri
Balikpapan (HIMPA POLTEKBA).
|
Selasa, 17 Maret 2015
Sewindu Mapala Cadas.Com
Sewindu
Mapala Cadas.Com
Teluk Balikpapan Jadi Atensi,
Kenalkan Daur Ulang ke Murid SD
BALIKPAPAN - Sampah sering kali menjadi hal yang disepelekan. Padahal,
jika diolah dengan baik, barang bekas tersebut bisa memiliki nilai ekonomis.
Seperti perkakas rumah tangga maupun kerajinan tangan.
Bertujuan lebih mengenalkan proses daur ulang, Mahasiswa Pencinta Alam Carmine Delta Adventurers Community (Mapala Cadas.Com) STT Migas Balikpapan, akan mengajak murid SD ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar untuk menunjukkan cara dan jenis pengolahan sampah.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian ulang tahun ke-8 Mapala Cadas.Com, yang jatuh pada Selasa (3/3). “Daur ulang harus dikenalkan sejak dini. Kota besar seperti Balikpapan pasti menghasilkan sampah yang juga besar. Jika bisa didaur ulang, tentu bisa mengurangi limbah,” kata Ketua Umum Mapala Cadas.Com, Ajian Tri Saputra.
Menurut Ajian, pada usianya yang sewindu, Cadas.Com terus berupaya untuk mengawal isu lingkungan, terutama di Balikpapan. Pasalnya, pembangunan yang pesat, pastinya akan bersinggungan dengan kelestarian alam. “Seperti di Teluk Balikpapan, aktivitas di sana bisa saja merusak ekosistem,” jelasnya.
Kemarin, di kampus STT Migas Balikpapan, dilakukan peringatan ulang tahun ke-8 Cadas.Com. Selain dihadiri civitas akademik, juga datang Mapala Uniba, Himpa Poltekba, dan komunitas pencinta alam di Balikpapan.
"Milad adalah momen introspeksi diri bagi kami dalam menentukan langkah organisasi ke depannya. Kesempatan ini juga untuk mempererat kerja sama dalam hal pelestarian lingkungan," kata Sadliansyah, ketua panitia. (*/edw/tom/k9)
Sumber : Kaltim Post
Langganan:
Postingan (Atom)






